Selasa, 24 November 2009

FILSUF ISLAM KLASIK TENTANG JIWA : AL-KINDI – IBN SINA – AL-RAZI – IBN BAJJAH

| |

Kaum filsuf muslim menggunakan kata jiwa atau al-nafs pada apa yang diistilahkan Alquran dengan al-ruh, yang dalam bahasa Indonesia berarti nafsu, nafas dan roh. Namun kata nafsu dalam pemakaian sehari-hari berkonotasi dorongan untuk melakukan perbuatan negative, sehingga kata ini dirangkaikan dengan kata hawa menjadi hawa nafsu.

Alquran dan hadis Nabi Muhammad Saw. tidak menjelaskan secara tegas tenang jiwa. Kaum filsuf muslim membahas jiwa dengan mendasarkannya pada filsafat jiwa yang dikemukakan para filsuf Yunani yang kemudian diselaraskan dengan ajaran Islam. Para filsuf islam klasik mendikotomikan antara perbedaan jasad atau tubuh dengan jiwa, dan mereka mempercayai adanya kontinuitas kehidupan setelah kematian. Berikut ada beberapa filsuf islam klasik yang mengemukakan mengenai jiwa :


AL-KINDI

Jiwa adalah jauhar basith, tunggal, tidak tersusun, tidak panjang, dalam dan lebar. Substansi jiwa berasal dari substansi Allah yang mempunyai wujud sendiri, terpisah dan berbeda dengan badan, bersifat Illahy. Jiwa menentang keinginan hawa nafsu.Kesatuan antara jiwa dan badan adalah kesatuan accident, jiwa tidak ikut binasa ketika badan binasa. Terdapat 3 daya pada jiwa manusia :

1. Daya bernafsu, terdapat pada perut disebut al-quwwat al-syahwaniyyat
2. Daya marah, terdapat pada dada disebut al-quwwat al-ghadabiyyat
3. Daya piker, terdapat pada kepala disebut al-quwwat al-aqliyyat

Akal sebagai suatu potensi sederhana yang dapat mengetahui hakikat-hakikat sebenarnya dari benda-benda yang terbagi menjadi empat macam :

1. Akal yang selamanya dalam aktualitas atau al-aql allazi bi al-fil abada
2. Akal yang bersifat potensial atau al-aql bi al-quwwat
3. Akal yang bersifat perolehan atau acquired intellect
4. Akal yang berada dalam keadaan actual nyata atau akal “yang kedua”

Hanya jiwa yang sucilah yang dapat sampai ke alam kebenaran. Jiwa yang masih kotor harus mengalami penyucian, pergi ke bulan, setelah bersih, lanjut ke merkuri, dan seterusnya, setingkat demi setingkat, hingga mencapai alam akal, dalam lingkungan cahaya Allah dan melihat Allah.

Al-Kindi meyakini bahwa pada akhirnya jiwa akan memperoleh keselamatan dan naik kea lam akal. Jiwa adalah khalidina fiha atau kekal, namun kekalnya berbeda dengan Allah, karena dikekalkan Allah.

IBN SINA

Pembahasan Ibn Sina tentang jiwa, secara garis besar terbagi dua :

 Fisika, membicarakan tentang jiwa tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia.
1. Jiwa tumbuh-tumbuhan mempunyai tiga daya : makan, tumbuh, berkembang biak.
2. Jiwa binatang mempunyai dua daya : gerak dan menangkap (menangkap dari luar lewat pancaindera, menangkap dari dalam lewat indera bathin).
3. Jiwa manusia mempunyai dua daya : praktis dan teoritis (praktis berhubungan dengan jasad, teoritis berhubungan dengan hal-hal yang abstrak). Daya teoritis terbagi menjadi :
a. Akal materil
b. Akal al-malakat
c. Akal actual
d. Akal mustafad

 Metafisika, membicarakan tentang :
1. Wujud jiwa
Dibuktikan dewat empat dalil :
a. Dalil alam kejiwaan
b. Konsep “aku” dan kesatuan fenomena psikologis
c. Dalil kontinuitas
d. Dalil manusia terbang atau melayang di udara
2. Hakikat jiwa
Jiwa merupakan substansi rohani, tidak tersusun dari materi-materi sebagaimana jasad, hubungan keduanya bersifat accident, hancurnya jasad tidak membawa hancurnya jiwa.
3. Hubungan jiwa dengan jasad
Eratnya hubunangan jiwa dan jasad yaitu dalam saling mempengaruhi atau membantu. Jasad adalah tempat bagi jiwa, adanya jasad merupakan syarat mutlak terciptanya jiwa. Jiwa tidak akan tercipta tanpa ada jasad yang akan ditempati.
4. Kekekalan jiwa
Jiwa manusia berbeda dengan tumbuh-tumbuhan dan hewan yang hancur dengan hancurnya jasad. Jiwa adalah baharu karena diciptakan dan kekal. Ibn Sina menempatkan jiwa manusia pada peringkat yang paling tinggi. Ada tiga dalil yang dikemukakan Ibn Sina untuk mendukung pendapatnya :
a. Dalil al-infishal, perpaduan antara jiwa dan jasad bersifat aksiden.
b. Dalil al-basathat, jiwa adalah jauhar rohani yang hidup selalu dan tidak mengenal mati.
c. Dalil al-musyabahat, jiwa sebagai akibat-nya akan kekal sebagaimana sebab-nya.


AL-RAZI

Al-Razi membedakan jiwa menjadi tiga :
1. Arruh : konsep umum yang sebenarnya jarang dipakai
2. Annafsu : potensi yang kita mainkan
3. Al’Aql : potensi energy kita yang memutuskan

Menurut Al-Razi manusia memiliki akal, hikmah, dan nafsu. Selain manusia dan bukan malaikant hanya mempunyai nafsu saja. Sedangkan malaikat hanya mempunyai hikmah.
Bagi Al-Razi akal merupakan substansi sangat penting yang terdapat dalam diri manusia sebagai cahaya dalam hati yang menurut Al-Razi bersumber langsung dari Allah, sebagai utusan untuk menyadarkan manusia dari kebodohannya. Al-Razi dikenal sebagai rasionalis murni. Baginya akal adalah karunia Allah yang terbesar untuk manusia. Al-Razi member perhatian dan kepercayaan yang cukup besar kepada akal.

Namun, tidak sampai meletakkan wahyu dibawah akal, apalagi tidak percaya pada wahyu, ia adalah seorang intelektual muslim yang percaua kepada nabi dan wahyu.


IBN BAJJAH

Jiwa tidak mengalami perubahan sebagaimana jasmani. Jiwa adalah penggerak bagi manusia yang digerakkan dengan dua jenis alat, yakni : alat-alat jasmaniah dan alat-alat rohaniah. Jiwa menurut Ibn Bajjah adalah jauhar rohani akan kekal setelah mati. Akal, daya berpikir bagi jiwa, adalah satu bagi setiap orang yang berakal dan dapat bersatu dengan akal Fa’al yang diatasnya dengan jalam ma’rifah filsafat. Akal ditempatkan pada posisi yang sangat penting. Dengan perantara akal, manusia dapat mengetahui segala sesuatu, termasuk dalam mencapai kebahagiaan dan masalah

Illahiyat, akal sendiri dibagi menjadi dua jenis :

A. Akal teoritis
Diperoleh dari pemahaman terhadap sesuatu yang konkret atau abstrak.
B. Akal praktis
Diperoleh melalui penyelidikan sehingga menemukan ilmu pengetahuan.
Manusia bisa mencapai puncak ma’rifah dengan akal semata, bukan dengan jalam sufi melalui al-qalb. Setelah manusia bersih dari sifat kerendahan dan keburukan masyarakat maka akan memperoleh puncak ma’rifah karena limpahan dari Allah.

1 komentar:

  1. Maha Agung nama الله (Allah), Tuhanmu Yang Mempunyai Kebesaran dan Karunia.

    BalasHapus

 
 

Diseñado por: Compartidísimo
Con imágenes de: Scrappingmar©

 
Ir Arriba