Jaipongan merupakan salah satu seni tari yang berasal dari tatar sunda. Jaipongan memiliki pola tarian yang tentatif, tergantung bagaimana yang memberikan pola asalkan masih mengikuti aturan-aturan yang sesuai sedemikian rupa sehingga disebut sebagai jaipongan. Pemberian pola jaipongan tidak terbatas pada gendingan atau siapa yang memberika pola, karena jaipongan termasuk tarian yang bebas digarap sesuai kebutuhan dan bahkan perkembangan jaman. Namun demikian biasanya, pola jaipongan bisa dikatakan lebih sering mengiblat kepada orang-orang yang sudah mahir memberikan pola dengan kata lain kareografer, biasanya orang yang masih dalam tahap belajar belum mampu memberikan pola tari atau masih belum berani memberikan pola, sehingga sering kali pola jaipongan memiliki kesamaan karena berasal dari satu sumber. Biasanya perbedaan sub daerah dapat mengakibatkan perbedaan pola tari, hal ini dikarenakan adanya latar belakang yang berbeda dalam seni, dialek, dan tradisi walaupun memiliki kebudayaan yang sama dan masih satu daerah. Hal tersebut biasa terjadi, yang menjadi pertanyaan besar adalah apakah perbedaan jenis kelamin koreografer jaipongan bisa membedakan pola tari yang terlahir?
Teh Eneng (begitu saya memanggilnya) merupakan koreografer jaipongan di TMII dan Kang Chepy merupakan koreografer jaipongan di Bandung, menurut saya mereka berdua merupakan koreografer handal dalam bidang jaipongan dan di tatar sunda untuk saat ini, mereka memiliki bacground pendidikan yang sama, yakni Sarjana Seni jurusan seni tari. Dalam satu kesempatan saya pernah mempelajari pola tari keduanya, terutama jaipongan, mereka memang memiliki karakter dan kekhasan yang unik. Hal yang menyenangkan adalah ketika mereka memberikan satu tarian jaipong baru yang berkolaborasi dengan gending bali, dengan tema dan judul yang sama, bahkan kaset yang sama persis, tapi dengan pola yang jelas berbeda, yakni jaipong bali. Terlepas dari keunikan dan karakter pola mereka, yang saya soroti adalah gerakan-gerakan mereka yang berbeda dan seolah-olah menjadi kekhasan pola antara laki-laki dan perempuan.
Pola jaipongan Teh Eneng selalu menggunakan gerakan-gerakan yang rumit dan cepat, kadang ia menyisipkan gerakan yang gagah dalam tarian ini. Jaipong bali yang dikemas oleh Teh Eneng menurut saya merupakan tarian jaipong yang kaya akan pola, sulit, dan terlihat maskulin. Properti yang digunakan juga beragam, diantaranya selain memainkan selendang bahu dan selendang pinggul, saya juga diajarkan memainkan kipas bali. Sedangkan pola Kang Chepy selalu menggunakan gerakan-gerakan yang erotis dan lemah gemulai, biasanya ia memberikan penekanan pada gerakan bahu dan pinggul, serta tatapan tajam, pola gerakannya tidak terlalu rumit, tapi menjadi sangat feminin dan lembut, properti yang digunakan pun hanya kipas bali bahkan tanpa selendang baik untuk digunakan ataupun sekedar tempelan pada kostum.
Kalau kita melihat secara logis kedua pola tersebut. Apakah perempuan justru memiliki tendency untuk mejadi maskulin? Dan apakah laki-laki lebih mengerti kefemininan itu seperti apa?
Berdasarkan pola yang diberikan Teh Eneng, saya menangkap bahwa, pola tarian yang yang beragam pola dan sulit, bisa dikatakan merupakan wujud aktualisasi diri yang sangat kompleks dan rumit, begitu juga dengan banyaknya properti yang digunakan, bisa kita katakan bahwa perempuan bisa melakukan berbagai hal dalam satu waktu, dan hal ini sudah dibiasakan, mungkin inilah frase dimana perempuan mengalami mogok, berdasarkan Lacan, perempuan tidak secara menyeluruh menyelesaikan kompleks oedipalnya, perempuan tetap berada diluar tatanan simbolik, diluar nalar dan bahasa, perempuan tidak dapat diketahui dan dipahami. Mungkin dalam fase cermin, perempuan justru tidak melihat dirinya sebagai liyan, perempuan selalu mengidentifikasikan dirinya dengan ibunya, karena karena tidak bisa mengidentifikasikan dirinya dengan ayahnya dalam drama psikoanalisis, sehingga perempuan tetap berada pada fase pra-oedipal ia dan ibunya adalah satu. Gaya maskulin yang sering dikeluarkan dalam pola tarian terutama jaipong bali, merupakan bentuk kecemburuan perempuan terhadap laki-laki, dimana perempuan menadi pihak yang disingkirkan dari tatanan simbolik dan dikucilkan pada bagian margin, perempuan direpresi dalam tatanan simbolik, dan dipaksa tunduk dalam tatanan itu diluar keingingannya. Perempuan dipaksa menggunakan bahasa yang sama dengan laki-laki, bahasa maskulin, sehingga perempuan harus berguman atau tetap membisu dalam tatanan simbolik. Dengan demikian kemarahan tersebut tertuang pada pola tarian. Berbeda halnya dengan Kang Chepy.
Selasa, 24 November 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar