Selasa, 24 November 2009

MENGGUGAT PEMIKIRAN ISLAM LEWAT SALAH SATU FILSUF ISLAM INDONESIA : PEMIKIRAN NEO-MODERNISME ISLAM GUSDUR

| |

Abdurahman Wahid atau yang biasa disapa dengan nama Gusdur dapat dikategorikan sebagai pemikir islam neo-modernism. Dalam pemikiran islam sendiri terdapat dua golongan, yakni : tradisional dan modernisasi. Para penganut tradisional bertumpu pada kaum Sunni yakni Kitab Kuning (fiqih), diantaranya adalah imam mazhab. Sedangkan pada golongan modernisasi berusaha melepaskan yang tradisional, diantaranya adalah Abduh, di Indonesia sendiri misalnya : Ahmad Dahlan dan Nashir. Orang-orang modern tersebut berusaha membebaskan diri dari imam mazhab, dari teori-teori klasik untuk kebangkitan islam. Sedangkan Gusdur sendiri berangkat dari yang tradisional. Ia mengambil semangat pemikiran modernism dan tidak melepaskan unsur tradisional, melainkan Ia merusaha mensintesakan tradisional dan modernisasi, sehingga beliau disebut sebagai pemikir islam neo-modernism.

Belau berusaha memahami islam dan al-quran bukan sekedar tekstual tapi juga kontekstual. Baginya sekularisasi sejalan dengan modernism. Namun sekularisasi yang disodorkan oleh Gusdur berbeda dengan sekularisasi barat. Gusdur mensintesiskan pemikiran islam dengan kondisi kekinian sehingga menjadi relevan.

Negara islam tidak ada relasinya, bahwa Negara islam dalam islam sendiri bukan keharusan. Islam terbuka pemikirannya bukan sekedar untuk orang islam saja. Dan mengenai permasalahan gender, baginya masalah pendidikan tidak tidak hanya diperuntukan bagi laki-laki saja melainkan juga perempuan.

Pemikirannya terbilang liberal, dalam arti melakukan reinterpretasi terhadap pemikiran islam. Dalam pandangannya, Indonesia merupakan Negara plural, maka apabila memasukan satu agama pada suatu Negara itu tidak boleh. Yang digunakan dalam berbangsa dan bernegara hanya semangatnya saja sehingga tidak menimbulkan konflik.
Menurutnya agama jangan dijadikan ideology terutama ideology alternative, karena ideology alternative bersifat suplementer. Agama dan politik tidak ada komplelenter, agama jadi sumber nilai atau spirit yang masuk ke ranah politik tapi semangatnya saja atau nilai-nilainya yang universal.

0 komentar:

Ir arriba

Posting Komentar

 
 

Diseñado por: Compartidísimo
Con imágenes de: Scrappingmar©

 
Ir Arriba