Selasa, 24 November 2009

How to constitute truth based on Kierkegaard’s idea?

| |

Bagi Kierkegaard subjektivitas manusia adalah individual. Manusia yang konkret dan nyata adalah yang individual dan subjektif, bukan apa yang dipukulrata dan objektif, karena hal yang objektif datang dari kesubjektifan. Manusia akan terus-menerus dihadapkan pada pilihan-pilihan, pilihan pertama haruslah diputuskan sejauh menyangkut apa yang baik dan apa yang buruk, sehingga manusia harus mampu menempatkan diri di salah satu pihak, yang baik atau yang buruk. Dengan menetapkan pilihan maka putusan-putusan tersebut menjadi bermakna. Kalau tidak memilih dengan tegas maka tidak menjalani eksistensi yang ada, artinya adalah untuk memilih dan membuat keputusan itu, manusia bebas. Jadi manusia harus mampu bertanggung jawab atas dirinya. Dengan adanya kesediaan untuk bertanggung jawab maka kebebasan untuk memilih dan memutuskan menjadi bermakna. Manusia harus lebih dulu menetapkan dirinya, lalu memutuskan, kemudian bertindak sesuai keputusannya. Bagi Kierkegaard individual bisa merasakan eksitensinya ketika mengambil resiko.

Agama harus dihayati sebagai suatu pengalaman subjektif. Yang menjadi masalah bukanlah agama itu sendiri, melainkan bagaimana menjalani suatu eksistensi beragama. Tuhan tidak bisa ditempuh melalui logika, melainkan harus didasarkan pada penghayatan subjektif. Kedekatan dengan Tuhan adalah penghayatan eksistensial. Tuhan sebagai kebenaran yang dihayati adalah subjektif. Adanya Tuhan berdasarkan pada kepercayaan, kepercayaan adanya Tuhan tidak bisa diobjektifikasi. Makin seseorang mendekati kesempurnaan, makin ia membutuhkan Tuhan.

Subjektivitas merupakan kebenaran pertama, yang merupakan dasar bagi eksistensi pribadi. Dengan demikian subjektivitas merupakan tugas. Eksistensi bagi manusia adalah tugas yang harus dihayati secara etis dan religius. Eksistensi yang sejati menjadi tugas setiap manusia, karena eksistensi tersebut disertai tanggungjawab yang memungkinkan individu untuk memilih dan memutuskan serta bertindak atas tanggungjawabnya sendiri, sehingga subjektivitas dan eksistensi adalah tugas. Orang yang sering menggabungkan diri dengan suatu kelompok merupakan orang yang tidak mampu tampil sendiri secara berarti. Tidak ada kemungkinan bagi manusia untuk bergabung satu sama lain, karena penggabungan ke dalam kelompok hanya pelarian bagi individu.

0 komentar:

Ir arriba

Posting Komentar

 
 

Diseñado por: Compartidísimo
Con imágenes de: Scrappingmar©

 
Ir Arriba