Kamis, 28 Januari 2010

KEMBALI KEPADA KEYNES

| | 0 komentar

I. Pendahuluan
Berkat jasa tokoh-tokoh neo-klasik yang melumpuhkan serangan Marx terhadap system kapitalis, maka perekonomian pada awal abad ke-20 berjalan sesuai dengan paham laissez faire-laissez passer seperti keinginan kaum klasik dan neo-klasik. Didasarkan atas pendapat J.B Say yang mengatakan bahwa penawaran akan selalu berhasil menciptakan permintaannya sendiri (supply creates it’s demand). Dengan begitu tiap perusahaan berlomba-lomba menghasilkan barang sebanyak-banyaknya. Akibatnya, produksi meningkat tidak terkendalikan, hingga pada tahun 30-an dunia mengalami krisis ekonomi yang mahadasyat (depresi besar-besaran). Perekonomian ambruk, pengangguran terbuka merajalela, dan inflasi membumbung tidak terkendali.
Krisis yang dialami negara-negara maju seperti yang digambarkan di atas oleh sebagian pihak dianggap bahwa ramalan Marx tentang kejatuhan system kapitalis menjadi kenyataan. Dalam menghadapi persoalan ekonomi yang mahadasyat tersebut, teori-teori ekonomi yang dikembangkan oleh pakar-pakar klasik maupun neo-klasik seperti lumpuh tak berdaya. Teori klasik dan neo-klasik tidak mampu menjelaskan fenomena dan peristiwa yang sesungguhnya terjadi. Apalagi memberikan jalan keluar dari kemelut yang dihadapi. Hal ini sebetulnya tidak dapat disesalkan, sebab yang terjadi pada tahun 30-an tersebut memang sangat berbeda dengan persoalan-persoalan yang selama ini dihadapi. Dalam situasi tidak menentu inilah lahir seorang tokoh ekonomi J.M Keynes.
II. Biografi Singkat John Maynard Keynes
John Maynard Keynes (1883-1946) mula-mula memperoleh pendidikan di Eton. Sebagai seorang murid yang pintar, ia banyak memenangkan berbagai dalam bidang matematika, bahasa inggris, dan seni klasik. Keynes melanjutkan pendidikan ke King’s College dengan bidang utama matematika. Disamping matematika, ia juga memperdalam filsafat dari gurunya Alfred Whitehead. Pelajaran-pelajaran ekonomi diperoleh dibawah binbingan Alfred Marshall dan A.C.Pigou. JM Keynes betul-betul cerminan seorang cendekiawan tulen. Selain ahli dalam ilmu ekonomi, yang didukung oleh kepiawaiannya dalam ilmu matematika, ia juga mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang filsafat dan politik. Bahkan, ia juga sangat mengerti dengan dunia sastra, seni lukis, teater drama dan tari balet klasik. Orang tuanya John Neville Keynes, juga seorang ahli ekonomi yang cukup disegani. Akan tetapi, namanya tenggelam di bawah baying-bayang nama anaknya yang jauh lebih termasyur .
Sesudah menamatkan kuliahnya, Keynes pernah menjadi editor sebuah jurnal ilmiah yang cukup ternama “Economic Jurnal”. Disamping itu, ia juga pernah bertugas sebagai pamong (civil servat) dalam pemerintahan inggris. Dalam usia sangat muda (sekitar 26 tahun) Keynes sudah ikut dalam tim delegasi inggris melakukan perundingan perdamaian Versailles tahun 1919. Sebelum mencapai usia 30 tahun ia diangkat sebagai dosen di Cambridge University. Pengaruh Keynes sangat besar dalam Perjanjian Bretton Woods tahun 1946 dan dalam pembentukan badan Moneter Internasional IMF (International Monetary Fund). Atas jasa-jasanya sangat besar, ia kemudian diangkat sebagai “baron”, suatu gelar kebangsawanan yang sangat tinggi dalam masyarakat Eropa. Beberapa karya besarnya diantaranya : The Economic Consequences of the Peace pada 1919, A Revision of the Treaty pada 1922, A Tract on Monetary Reform pada 1923, A Treatise on Money pada 1930, kemudian The General Theory pada 1977 yang merupakan reaksi terhadap depresi besar-besaran yang terjadi tahun 30-an, dan tulisan ini pula yang membuat dia mulai meninggalkan pemikiran klasik dan neo-klasik, karena metode klasik dan neo-klasik mengandung banyak kelamahan dan tidak bisa memecahkan persoalan tersebut, dan karya besar lainnya .


III. Kritik Keynes terhadap Teori Klasik
Kaum klasik yang percaya bahwa perekonomian yang dilandaskan pada kekuatan mekanisme pasar akan selalu menuju keseimbangan (equilibrium). Dalam posisi keseimbangan, kegiatan produksi secara otomatis akan menciptakan daya beli untuk membeli barang-barang yang dihasilkan. Daya beli tersebut diperoleh sebagai balas jasa atas factor-faktor produksi seperti upah, gaji, suku bunga, sewa, dan balas jasa dari factor produksi lainnya. Pendapatan atas factor-faktor produksi tersebut seluruhnya akan dibelanjakan untuk membeli barang-barang yang dihasilkan perusahaan. Ini yang dimaksud Say bahwa penawaran akan selalu berhasil menciptakan permintaannya sendiri .
Sebenarnya dalam posisi keseimbangan tidak terjadi kelebihan maupun kekurangan permintaan. Ketidakseimbangan (disequilibrium), seperti pasokan yang lebih besar dari permintaan, kekurangan konsumsi, atau terjadi pengangguran, keadaan ini dinilai kaum klasik sebgai sesuatu yang sementara sifatnya. Nanti aka n ada suatu tangan tak kentara (invisiblehands) yang akan membawa perekonomian kembali pada posisi keseimbangan.
Kaum klasik juga percaya bahwa dalam keseimbangan semua sumber daya, termasuk tenaga kerja, akan digunakan secara penuh. Dengan demikian, dibawah system yang didasarkan pada mekanisme pasar tidak ada pengangguran. Pekerja terpaksa menerima upah rendah, daripada tidak memperoleh pendapatan sama sekali. Kesediaan untuk bekerja dengan tingkat upah lebih rendah ini akan menarik perusahaan untuk mempekerjakan mereka lebih banyak.
Jadi, dalam pasar persaingan sempurna mereka yang mau bekerja pasti akan memperoleh pekerjaan. Pengecualian berlaku bagi mereka yang “pilih-pilih” pekerjaan, atau tidak mau bekerja dengan tingkat upah yang diatur oleh pasar. Pekerja yang tidak bekerja karena kedua alasan diatas, oleh kaum klasik tidak digolongkan pada penganggur. Kaum klasik menyebutnya pengangguran sukarela (voluntary unemployment).
Kita semua sudah tahu bahwa, analisis klasik bertumpu pada masalah-masalah mikro. Dalam berproduksi, misalnya, masalah yang dihadapi adalah : bagaimana menghasilkan barang-barang dan jasa sebanyak-banyaknya. Itu dilakukan dengan biaya serendah-rendahnya dengan memilih alternative kombinasi factor-faktor produksi yang terbaik. Dengan cara memilih alternative terbaik atau paling efisien, perusahaan akan memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Hal itu berdasarkan keyakinan bahwa tiap barang yang diproduksi akan selalu diiringi oleh permintaan. Dalam kenyataannya, menurut Keynes permintaan lebih kecil dari penawaran. Alasannya, sebagian dari pendapatan yang diterima masyarakat akan ditabung, dan tidak semuanya dikonsumsi. Dengan demikian, permintaan efektif biasanya lebih kecil dari total produksi. Walaupun kekurangan ini bisa dieliminasi dengan menurunkan harga-harga, pendapatan tentu akan turun. Sebagai akibatnya, tetap saja permintaan lebih kecil dari penawaran. Karena konsumsi lebih kecil dari pendapatan, tidak semua produksi akan diserap masyarakat. Memang inilah yang terjadi pada tahun 30-an, saat perusahaan berlomba-lomba berproduksi tanpa kendali. Dipihak lain, daya beli masyarakat terbatas. Akibatnya banyak stok menumpuk. Sebagian perusahaan terpaksa mengurangi produksi dan sebagian bahkan melakukan rasionalisasi, yaitu mengurangi produksi dengan mengurangi jumlah pekerja.
Tindakan rasionalisasi dari pihak perusahaan akan memaksa sebagian pekerja menganggur. Orang yang mengganggur jelas tidak memperoleh pendapatan. Sebagai konsekuensinya, pendapatan masyarakat turun. Turunnya pendapatan masyarakat menyebabkan daya beli semakin rendah, sehingga barang-barang tidak laku sehingga kegiatan produksi jadimacet.
Sejak terjadinya depresi tahuan 30-an tersebut berdasarkan sejarah, banyak orang yang curiga bahwa jangan-jangan ada sesuatu yang salah dengan teori klasik dan neo-klasik yang dianggap berkalu umum selama ini. Menurut Keynes dalam pandangan klasiknya, produksi akan selalu menciotakan permintaannya sendiri hanya berlaku untuk perekonomian tertutup sederhana. Ini terdiri dari sector rumah tangga danperusahaan saja. Pada tingkat perekonomian seperti ini semua pendapatan yamg diterima pada suatu periode biasanya langsung dikonsumsi tanpa ada yang ditabung. Dalam keadaan seperti ini memang permintaan akan selalu sama dengan penawaran agregat. Akan tetapi, dalam perekonomian yang lebih maju masyarakatnya sudah mengenal tabungan, sebagian dari pendapatan akan mengalami kebocoran. Hal itu dapat diketahui kebocorann dalam bentuk tabungan, sehingga arus pengeluaran tidak lagi sama dengan arus pendapatan. Dengan demikian, permintaan agregar akan lebih kecil dari penawaran agregat.
Pendapatan diatas mula-mula dibantah oleh pendukung klasik. Mereka mengatakan bahwa tabungan tersebut akan dihimpun oleh lembaga-lembaga keuangan dan akan disalurkan pada investor. Menurut keyakinan pendukung-pendukung klasik, pasar akan mengatur sedemikian rupa sehingga jumlah tabungan akan sama dengan jumlah investasi. Dengan demikian, kebocoran yang terjadi dalam tabungan akan diinjeksi kembali ke dalam perekonomian melalui investasi, sehingga keseimbangan kemali wujud perekonomian.
Pendapat klasik bahwa jumlah tabungan akan selalu sama dengan jumlah investasi diatas dibantah Keynes. Alasannya, motif orang untuk menabung tidak sama dengan motif pengusaha untuk menginvestasi. Pengusaha melakukan investasi didorong oleh keinginan untuk mendapatkan laba sebesar-besarnya. Semantara itu, sector rumah tangga melakukan penabungan didorong oleh brbagai motif yang sangat berbeda. Termasuk didalamnya ialah motof untuk berjaga-jaga, misalnya untuk menghadapi kecelakaan, penyakit, untuk memenuhi hajat, dan sebagainya. Perbedaan dalam motif ini menyebabkan jumlah tabungan tidak akan pernah sama dengan jumlah investasi. Kalaupun jumlahnya sama, menurut Keynes itu hanya merupakan kebetulan belaka, bukan suatu keharusan.
Hal ini karena Keynes mengamati bahwa umumnya investasi lebih kecil dari jumlah tabungan, ia menyimpulkan bahwa permintaan agregar jauh lebih kecil dari penawaran agregat. Kekurangan ini apabila tidak diantisipasi, akan menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan dalam perekonomian. Karena sebagai produksi tidak terserap oleh masyarakat, stok akan meningkat, dan pada periode-periode berikutnya terpaksa harus dibatasi. Apa yang menjadi inti pokok dari pendapat Keynes diatas ialah bahwa perekonomian yang berjalan menurut mekanisme pasar biasanya mencapai keseimbangan pada titik di bawah full-employment.
Kritik Keynes yang lain terhadap system klasik yang juga sangat perlu diperhatikan ialah pendapatnya yang mengatakan bahwa tidak ada mekanisme penyesuaian. Hal ini otomatis menjamin tercapainya keseimbangan perekonomian pada tingkat penggunaan kerja penuh. Hal ini sangat jelas dalam analisisnya tentan keseimbangan pasar kerja.
Sebelumnya sudah dijelaskan bahwa kaum klasik percaya bahwa dalam posisi keseimbangan semua sumber daya, termasuk didalamnya sumber daya tenaga kerja atau labor, akan dimanfaatkna secara penuh. Seandainya terjadi pengangguran, pemerintah tidak perlu melakukan tindakan atau kebijakan apapun.
Sesuai pandangan laissez faire klasik, biarkan saja keadaan demikian. Nanti orang-orang yang tidak bekerja tersebut akan bersedia bekerja dengan tingkat upah yang lebih rendah. Hal ini yang mendorong pengusaha untuk mempekerjakan labor labih banyak, hingga akhirnya semua yang mau bekerja akan memperoleh pekerjaan.
Pandangan klasik di atas tidak diterima Keynes. Menurut pandangan Keynes, dalam kenyataan pasar tenaga kerja tidak bekerja sesuai dengan pandangan klasik tersebut. Dimana pun para pekerja mempunyai semacam serikat kerja yang akan berusaha memperjuangkan kepentingan buruh dari penurunan tingkat upah. Dari sini Keynes mengecam analisis kaum klasik yang didasarkan pada pengandaian-pengandaian yang keliru dengan kenyataan sehari-hari.
Kalaupun tingkat upah bisa diturunkan, walaupun kemungkinan kecil, tapi tingak pendapatan masyarakat tentu akan turun. Turunnya pendapatan masyarakat tentu akan menyebabkan turunnya daya beli masyarakat. Pada gilirannya hal ini akan menyebabkan konsumsi secara keseluruhan berkurang. Berkurangnya daya beli masyarakat akan mendorong turunnya harga-harga.
Kalau harga-harga turun, kurva nilai produktivitas marjinal labor yang dijadikan patokan oleh pengusaha dalam mempekerjakan labor akan turun. Kalau penurunan dalam harga-harga tidak begitu besar, kurva nilai produktivitas marjinal labor hanya turun sedikit. Walaupun begitu, tetap saja jumlah labor yang tertampung lebih kecil dari jumlah labor yang ditawarkan. Yang lebih parah, kalau harga-harga turun drastic. Ini menyebabkan kurva nilai produktivitas marjinal labor turun drastic pula. Jumlah labor yang tertampung pun jadi semakin kecil dan pengangguran menjadi semakin luas.
Dari deskripsi panjang lebar tersebut, memang alur pemikiran Keynes sangat logic dan bisa kita telusuri dengan mudah tanpa berumit-rumit, dan premis-premisnya bisa kita periksa kembali. Dengan demikian kritik Keynes mengenai klasik dan neo-klasik memang masih masuk akal dalam ilmu ekonomis dan memenuhi aturan yang tidak terjebak pada logic fallacy secara filosofis. Namun bagaimana pandangan Keynes mengenai peran institusi ?
IV. Mendiskusikan Kembali pandangan Keynes
Pandangan Keynes sering dianggap sebagai awal dari pemikiran ekonomi modern. Keynes banyak melakukan pembaharuan dan perumusan ulang doktrin-doktrin klasik dan neo-klasik. Karena Keynes menganggap peran pemerintah perlu dalam melaksanakan pembangunan, sehingga Keynes sering disebut “Bapak Ekonomi Pembangunan”. Selain itu, ia juga disebut “Bapak Ekonomi Makro”, sebab dahulu dalam tradisi klasik maupun neo-klasik analisis-analisis ekonomi lebih banyak bersifat mikro, sejak Keynes analisis ekonomi juga dilakukan secara makro. Hal itu dilakukan dengan melihat hubungan di antara variable-variable ekonomi secara besar-besaran.
Pengaruh Keynes terhadap negara-negara berkembang yang sangat ingin melihat pembangunan ekonominya berhasil sangat besar. “Sejak kemunculaan Keynes, status ahli-ahli ekonomi naik beberapa tingkat. Pendapatan-pendapatan mereka lebih sering didengar dan dijadikan sebagai bahan mengambil kebijakan” . Sebagaimana yang pernah ditulis Keynes :
“The ideas of economists and political philosophers, both when they are right and when they are wrong, are more powerful than is aommonly understood. Indeed, the world is ruled by little else!” (Keynes, 1936)
Keynes yang merupakan anak seorang ahli ekonomi John Neville Keynes sering dibandingkan dengan John Stuart Mill, yang juga anak ahli ekonomi James Mill . Keynes dan Mill junior sama-sama menolak implikasi kebijaksanaan dasar yang sianut kedua orang tua mereka . Keduanya berani menempuh perjalanan kea rah yang berbeda. Perbedaannya, JS Mill gagal melakukan perpisahan dengan struktur teoretis yang dikembangkan pakar-pakar terdahulu (terutama oleh Richardo), sehingga ia akhirnya hanya bisa membuat “rumah setengah jadi” antara mahzab klasik dan neo-klasik. Sementara itu JM Keynes berhasil melakukan escape dari masa lalu, yaitu dari tradisi laissez faire yang dianut pakar-pakar ekonomi masa silam seperti Adam Smith, Richardo dan gurunya sendiri Alfred Marshall. Keynes kemudian berhasil membentuk suatu “bangunan rumah utuh” dalam struktur teori-teori ekonomi baru, sehingga terjadi revolusi baik dalam teori bahkan kebijakan ekonomi.
Sebagian yang dilakukan Keynes dalam mengembangkan teori-teori baru dapat dijelaskan sebagai reaksi intelektual terhadap masalah-masalah yang dihadapi di masanya. Keynes ingin mengetahui kekuatan-kekuatan yang telah menyebabkan terjadinya pengangguran besar-besaran di Inggris tahun 20-an dan depresi besar-besaran tahun 30-an. Apa yang disaksikannya, menurut pemikiran Keynes, tidak mungkin bisa dibatasi dengan teori-teori dan pendekatan usang kaum klasik yang dipelajarinya dari tokoh-tokoh ekonom terdahulu .
Bagi masyarakata Indonesia, satu hal yang bisa kita pelajari dari tokoh Keynes ialah bahwa dalam mencari kebenaran kita harus dapat menghilangkan kebudayaan segan. Menolak ajaran-ajaran lama bukan berarti bahwa kita tidak menghargai karya-karya para pemikir ekonomi terdahulu. Akan tetapi, sebagai titik anjak untuk membuka lembaran baru yang diyakini mampu membawa masyarakat pada tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi, baik di masa sekarang maupun dimasa yang akan datang. Bagi masyarakat Indonesia yang sering terjerat dan terpenjara oleh masa lampau, hal ini bisa dijadikan sebagai sesuatu yang berharga untuk diperhatikan.

V. Analisa Kritis
Banyak orang yang mengkritik Keynes waktu teori-teori yang dikembangkan tidak berhasil mengatasi persoalan-persoalan ekonomi pada tahun 70-an dan 80-an, terutama dalam mengatasi inflasi. Akan tetapi, tidak banyak yang tahu bahwa kegagalan tersebut antara lain disebabkan oleh hambatan dan rintangan institusional dan structural. Menurut Sumitro Djojohadikusumo (1991), secara khusus hambatan dan rintangan itu berkisar pada sikap kaku dalam perilaku tiga jenis golongan masyarakat, yaitu konglomerasi kelompok-kelompok perusahaan besar, organisasi-organisasi serikat buruh, dan birokrasi pemerintah sendiri.
Konglomerasi dan konsentrasi dalam dunia usaha mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam perekonomian. Dengan kekuatan monopoli yang ada di tangan, mereka mampu mengendalikan harga. Umumnya, mereka tidak rela menurunkan harga dengan cepat, tetapi lebih suka menahan harga pada tingkat tinggi, mungkin ini hanya merupakan asumsi subjektif saya, tapi sebaliknya kita lihat, organisasi buruh mempunyai kekuatan untuk mendesak agar tingkat upah dinaikkan dan tidak mau menurunkan tingkat upah sesuai perkembangan keadaan. Kombinasi antara sikap egois konglongmerat yang ingin menahan harga pada tingkat tinggi dan sikap kaku organisasi-organisasi pemburuhan menyebabkan sulitnya pemerintah mengatasi inflasi yang terjadi. Keadaan sebenarnya diperparah oleh sikap kaku birokrasi pemerintah.

VI. Daftar Bacaan
Budiman, Arief. Sistem Perekonomian Pancasila dan Ideologi Ilmu Sosial di Indonesia. Jakarta : PT Gramedia, 1989.
Deliarnov. Perkembangan Pemikiran Ekonomi. Jakarta : PT.RajaGrafindo Persada, 2003.
Djojohadikusumo, Sumitro. Perkembangan Pemikiran Ekonomi. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 1991.
Keynes, J.M. The General Theory of Employment, Interest and Money. New York: Harcourt Brace, 1936.
Biografi Singkat JM Keynes, www.google/wikipedia.com
Kehidupan Keynes, www.Blog-anonime//google.com
Pertarungan Ekonomi, intisariekonomi, www.google.com
Sejarah ekonomi/Aliran Ekonomi, www.google.com
www.wikipedia/ekonomi-di-inggris.com
leer más...

Asghar Ali Engineer : Membedah Pemikiran Pemikir Islam Kultural (Rabu, 23 Desember 2009)

| | 0 komentar

“Masyarakat yang sebagian anggotanya mengeksploitasi sebagian anggota
lainnya yang lemah dan tertindas tidak dapat disebut sebagai masyarakat Islam”
(Engineer, 1999)

Dalam 18 bab pada buku ini , Asghar Ali Engineer bertutur kepada kita sebagai pembaca tentang Islam sebagai teologi pembebasan, dalam berbagai perspektif. Sebagai awalan, ia menerangkan tentang konsep teologi pembebasan. Menurut Engineer, teologi pembebasan hadir untuk mengambil peran dalam membela kelompok yang tertindas. Teologi pembebasan adalah anti kemapanan, baik kemapanan relijius maupun politik. Engineer mengintepretasikan kembali ungkapan Karl Marx yang terkenal, yakni bahwa agama adalah candu bagi masyarakat bukan sekedar mencandukan kesadaran masyarakat, agama juga turut memantapkan status quo dan tidak mendukung perubahan.
Islam sendiri pada awal perkembangannya banyak dipeluk oleh orang-orang yang bukan golongan elit masyarakat. Muhammad sebagai pembawa risalah juga berasal dari keluarga Quraisy yang, walaupun cukup terpandang, tidak tergolong keluarga kaya dan berstatus sosial tinggi. Pada saat itu Islam menjadi tantangan yang membahayakan para saudagar kaya Mekah, sehingga mereka menolak ajaran Islam. Bukan semata-mata karena mereka menolak risalah tauhid, tetapi lebih kepada ketakutan mereka terhadap Islam yang akan membawa perubahan sosial, khususnya pada tingkatan kekuasaan, baik politik maupun ekonomi.
Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menyinggung masalah-masalah sosial, yang bersifat kolektif (umat) dan personal. Salah satu hal yang ditegaskan di sana adalah konsep keimanan. Engineer percaya bahwa orang yang beriman pasti dapat dipercaya, berusaha menciptakan kedamaian dan ketertiban, dan memiliki keyakinan terhadap semua nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan. “Engineer melihat bahwa bangsa-bangsa di Asia dan Afrika pada saat ini sedang giat melakukan perubahan sosial. Tetapi kemudian, timbul pertanyaan perubahan seperti apakah yang dibuat dan untuk membela kepentingan siapa, rakyat ataukah penguasa? Ia mengangkat beberapa fenomena seperti Imam Khomeini yang memimpin revolusi Iran akibat tekanan dari Syah, penguasa Iran yang memberlakukan westernisasi. Engineer kembali membandingkan antara marxisme dan tradisi religio-kultural dalam sebuah perubahan sosial. Agama sebagai instrumen dapat digunakan sebagai candu atau malah ideologi yang revolusioner. Seperti Yahudi yang menentang Fir’aun, Islam di Iran menggulingkan Syah dan Kristen di Filipina yang merobohkan Marcos. Revolusi tidak akan muncul bila tidak ada penindasan” . Islam mengajarkan untuk menempatkan manusia sederajat (egaliter) dan menolak segala bentuk penindasan, menumpuk harta, riba, kemiskinan dan kebodohan. Menurut Al-Qur’an, hak atas kekayaan itu tidak bersifat absolut. Semua yang ada di bumi dan di langit adalah kepunyaan Allah, dan manusia dilarang membuat kerusakan di keduanya. Konsep keadilan ekonomi, politik dan sosial Ibnu Taimiyyah, seorang ahli hukum abad pertengahan, berkali-kali dikutip oleh Engineer sebagai acuan. Ibnu Taimiyyah mengatkan bahwa kehidupan manusia di muka bumi ini akan lebih tertata dengan sistem yang berkeadilan walau disertai suatu perbutan dosa, daripada dengan tirani yang alim.
Ekstremnya dikatakan bahwa Allah membenarkan negara yang berkeadilan walaupun dipimpin oleh orang kafir, dan menyalahkan negara yang tidak menjamin keadilan meskipun dipimpin oleh seorang Muslim. Juga disebutkan bahwa dunia akan bisa bertahan dengan keadilan dan kekafiran, namun tidak dengan ketidakadilan dan Islam. Dalam menghadapi tantangan kemiskinan, Engineer mengatakan bahwa jika agama hendak menciptakan kesehatan sosial, dan menghindari dari sekedar pelipur lara dan tempat berkeluh kesah, agama harus mentransformasikan dirinya menjadi alat yang canggih untuk melakukan perubahan sosial. Teologi, meskipun berasal dari teks-skriptural yang diwahyukan dari Tuhan, sebagian bersifat situasional-kontekstual dan normatifmetafisika. Ruhnya yang militan tampak menonjol ketika tetap mengidentifikasikan dirinya dengan kaum tertindas. Al-Qur’an memberi peringatan: Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan membela orang yang tertindas, laki-laki, perempuan dan anak-anak yang berkata, “ Tuhan kami! Keluarkan kami dari kota ini yang penduduknya berbuat zalim. Berilah kami perlindungan dan pertolongan dari- Mu!” (Q.S., 4: 75) .
Berangkat dari wacana yang berada dalam bukunya tersebut, jelaslah bahwa Engineer tidak bias gender, ia berusaha membebaskan manusia semanusia-manusianya, tidak peduli kaya atau miskin, tua atau muda, bahkan kafir atau tidak, termasuk perempuan, karena dengan asumsi dasar bahwa perempuan juga adalah manusia seperti juga lelaki yang adalah manusia.

Membaca Ulang Ayat-Ayat Perempuan
Persoalan relasi jender, laki-laki dan perempuan dalam Islam belum lagi tuntas. “Asma Barlas, intelektual muslim Pakistan, menyatakan bahwa semua teks Al-quran selalu terbuka untuk menampung beragam pembacaan. Sifatnya yang polisemik, menjadikan keragaman pembacaan bukan saja memperkaya pemahaman tentang ajaran yang dikandungnya, tetapi juga memperlihatkan sikap toleransi dan demokratis dalam wacana keagamaan muslim. Melalui semangat inilah pembebasan kaum perempuan dari hegemoni kaum patriarkis dan misoginis bisa terwujud. Menurut feminis jebolan Universitas Denver, Corolado, Amerika ini, selama berabad-abad Al-quran dan hadits dibaca dengan semangat patriarkhis dan misoginis. Laki-laki adalah makhluk yang diberikan tuhan derajat lebih tinggi dan menjadi pelindung atau pemimpin bagi perempuan. Sedang kaum perempuan hanyalah makhluk menyedihkan yang fungsi seksual dan biologisnya tidak memungkinkan mereka melakukan aktivitas kecuali melahirkan yang itu telah menjadi tragedi bilogisnya” .
Pemikiran kritis itu memperlihatkan bahwa persoalan relasi jender, laki-laki dan perempuan dalam Islam belum lagi tuntas. Nash Al-quran dan hadits yang menyerukan kesederajatan, kesetaraan dan keadilan mengalami reduksi interpretasi yang luar biasa. Hasilnya, kaum muslim terperangkap pada sebuah situasi dimana menjadikan hasil bacaan ulama tempo dulu (tafsir) sebagai hal yang permanen. Kalaupun ada upaya pembacaan kritis, bukan dilakukan terhadap al-quran, tetapi atas tafsir itu sendiri. Tafsir atas tafsir yang berkutat pada penafsiran tafsir. Inilah yang menyebabkan hingga kini kaum perempuan tetap berada pada posisi feriferal. Sekalipun secara normatif mereka mendapat jaminan untuk duduk sama rendah dan berdiri sama tegak dengan kaum laki-laki, tapi tetap saja belum bisa meruntuhkan konstruksi social yang berdiri kokoh di atas fondasi stereotype kaum muslim yang patriarkis. Situasi ini, bagi Asghar Ali Engineer, merupakan bentuk dominasi kaum laki-laki yang menjijikkan.

Berawal dari Pembacaan
Di sinilah pangkal masalah timbulnya perlakuan yang berbeda oleh laki-laki terhadap perempuan. Perjalanan ayat Al-quran dan hadits Nabi, diinterupsi tanpa mempertimbangkan kemana sesungguhnya arah dari yang ingin dituju dari ayat dan hadits tersebut. Turunnya ayat-ayat yang menyuarakan pembelaan terhadap perempuan di tengah struktur masyarakat Arab yang patriarkis, alih-alih dibaca sebagi bentuk keberpihakan al-quran pada nasib perempuan, tidak jarang dijadikan justifikasi guna membatasi ruang gerak perempuan sendiri.
Ketika membicarakan kepentingan politik melalui isu kepemimpinan (QS : 4;34) dijadikan senjata untuk menghambat hak-hak politik perempuan. Ayat ini dibaca lepas dari konteks kelahirannya dan kondisi sosio-histrois saat ini. Kepentingan politik telah menjadikan para mufassir mereduksi makna sesungguhnya ayat tersebut.
Manakala Al-quran berbicara tentang saksi perempuan (QS : 2;282), ia disahuti denganmenyatakan bahwa perempuan adalah makhluk “setengah saksi”. Kaum Hawa ini dianggap lemah dalam ingatan, tidak kuat secara fisik dan mental serta kemampuan yang jauh di bawah laki-laki. Pun pernyataan Tuhan tentang kebolehan memukul isteri (QS : 4; 34), dijadikan alasan untuk menempatkan isteri sebagai perempuan domestik. Ayat al-quran yang menyerukan agar perempuan menutup tubuhnya (QS : 24; 31) dimaknai kewajiban perempuan memakai cadar.
Pembacaan terhadap ayat-ayat perempuan yang sarat dengan semangat patriarkis dan misoginis semakin tampak dalam lembar-lembar kitab kuning. Dalam berbagai kitab fiqh yang ada, nasib perempuan lebih tragis lagi. Mereka diposisikan sebagai makhluk setengah dari laki-laki. Tatkala orang tua mendapatkan anak yang baru lahir berjenis kelamin laki-laki, maka dianjurkan menyembelih ‘aqiqah 2 ekor kambing dan perempuan 1 ekor. Apabila seseorang terbunuh, maka diyat yang harus dibayar oleh sipembunuh 100 ekor unta untuk korban laki-laki dan 50 ekor unta jika korbannya adalah perempuan.
Dalam kehidupan keluarga, perempuan (isteri) tidak boleh keluar rumah tanpa seizin suami, keharus memenuhi keinginan bilogis suami oleh isteri tanpa reserve. Terkait dengan talak yang telah dijatuhkan laki-laki, kitab fiqh memberikan keistimewaan kepada laki-laki untuk memperisterikan kembali selama dalam masa iddah dan perempuan tidak diperbolehkan untuk menolak. Pandangan perempuan sejajar dengan laki-laki sebagaimana dinyatakan sejumlah ayat al-quran menjadi hilang dalam berbagai lembaran kitab kuning. Sebut saja diantaranya QS : 4;1, QS:30;20-21, QS: 39;6, QS:53;44-45, QS:9;67-68 dan 71-72, QS:24;26, QS:33;35-36, 58 dan 73, QS:4;3-4, 19-25, 35 dan 129 QS:2;226-237 dan 240-241 dan QS:4;11-12 dan 176. Masih banyak lagi ayat-ayat yang senada tersebar setidakna dalam sepuluh surat dalam al-quran.

Semangat Membebaskan
Tentu tidak perlu menyalahkan apa yang dihasilkan para mufassir dan fuqaha tempo dulu,dengan pembacaan mereka yang sesuai dengan jamannya. Mengutip Asghar Ali Engineer, bahwa pemahaman seseorang terhadap al-quran dipengaruhi oleh keadaan dan persepsinya terhadap realitas. “Para fuqaha dan mufassir telah dengan sungguh-sungguh memahami perintah al-quran sesuai dengan keadaan yang meligkupi mereka” Sebaliknya sikap muslim saat ini yang perlu digugat, karena menjadikan hasil karya pembacaaan masa lalu itu sebagai sesuatu yang final. Keseharian kaum muslim lebih menjadikan kitab fiqh masa lalu sebagai sumber utama dibanding Al-quran dan hadits Nabi.
Syariat Islam yang dilaksanakanpun berpijak pada pandangan ulama klasik tersebut. Umat Islam telah menutup dirinya dari semangat perubahan. Enggan melakukan pembacaan ulang secara kritis terhadap ayat-ayat tuhan, akibatnya egaliterianisme al-quran terduksi secara perlahan-lahan.

Poligami atau Monogami ?
Masalah kebolehan mengawini seseorang atau lebih (poligami atau monogami) merupakan masalah yang menarik dari zaman ke zaman. Kajian dan pembahasan hal ini cukup mendapat perhatian para pemikir di dunia Islam baik kalsik maupun modern.
Asghar Ali Engineer. Cendekiawan asal India ini berkesimpulan bahwa substansi perkawinan dalam Islam adalah monogami. Ia mencoba memetakan berbagai ayat yang berkaitan dengan masalah perkawinan di dalam al- Quran secara komprehensip dan tidak secara parsial.
Semua agama termasuk Islam dan berbagai tradisi keagamaan memperbolehkan laki-laki memiliki beberapa isteri. Berbagai mitos dan legenda Hindu menceritakan tentang beratus-ratus isteri dari para Dewa seperti halnya Dewa Krishna. Tradisi kesukuan juga memperbolehkan poligami. Kaum perempuan sendiri menganggap institusi poligami sebagai sesuatu yang natural atau God Given tidak tidak ada perlawanan terhadap praktek tersebut.
Poligami mendapat pertentangan pada era modern, terutama pada abad keduapuluh. Revolusi industri telah membangkitkan kesadaran perempuan terhadap hak-hak mereka dan mendorong mereka menuntut kesetaraan status dengan laki-laki. Pada masyarakat feodal perempuan tidak memiliki peran produksi kecuali dalam bidang agricultural. Dengan munculnya revolusi industri perempuan dibutuhkan seiring dengan meningkatnya jumlah beragam pekerjaan di wilayah urban dan dengan demikian perempuan juga dituntut untuk memiliki peran lebih besar dalam proses produksi.
Jika dalam masyarakat feodal perempuan-perempuan yang miskin bekerja di sektor rural dan urban, sementara perempuan dari kalangan atas pada umumnya memilih tinggal di rumah, maka dalam masyarakat industrial seluruh perempuan mulai bekerja termasuk perempuan-perempuan yang terdidik dari kalangan atas. Perempuan-perempuan dari kalangan terdidik dan dari kelas atas inilah yang memberikan ideologi dan menyuarakan gerakan perempuan.
Kesadaran membimbing mereka untuk menolak peran subordinat dan status sebagai second sex . Di dunia Islam, Poligami menjadi salah satu persoalan yang kontroversial. Para ulama termasuk mufassir klasik pada umumnya mengakui poligami sebagai norma Islam yang secara tekstual mendapatkan legitimasi al-Quran. Sementara di sisi lain, dengan beragam argumentasi, mayoritas pemikir Islam modern berpendapat bahwa monogamy merupakan tujuan ideal Islam dalam perkawinan.
Di Indonesia, perdebatan kontroversial di awal abad ke 21 khususnya berkaitan dengan persoalan perempuan ialah isu kepemimpinan perempuan dan poligami. Dari konteks sejarah, sebelum Undang-Undang Perkawinan menjadi Undang- Undang persoalan poligami telah marak dibicarakan, terlebih ketika rancangan undang-undang tentang perkawinan diusulkan menjadi undang-undang. Pada akhirnya monogami ditetapkan menjadi salah satu azas tetapi dengan suatu pengecualian yang ditujukan kepada orang yang menurut hukum dan agamanya diizinkan seorang suami beristeri lebih dari seorang.

Kesimpulan
Interpretasi yang sepihak tanpa memperhatikan hak asasi perempuan sebagai individu yang otonom menjadi embrio lahirnya berbagai ketidakadilan terhadap perempuan. Praktek poligami pada kenyataannya telah memunculkan berbagai ketidakadilan dan penindasan terhadap perempuan. Persoalan yang krusial ialah apakah memang Islam secara normatif melegitimasi praktek poligami? Bagaimana dengan realitas empiris bahwa perempuan semakin menyadari kehidupan dan dunianya seiring dengan meningkatnya tingkat pendidikan mereka. Dalam wacana studi agama kontemporer, langkah-langkah metodologis Engineer merupakan tawaran ideal yang dapat memberikan alternatif jawaban terhadap persoalan dikhotomis antara norma agama di satu sisi dan historisitas di sisi yang lain. Tawaran metodologi sosio-teologis Engineer dalam menafsirkan persoalan poligami menjadi menarik untuk dipertimbangkan.
Pembolehan mengawini lebih dari seorang perempuan bersifat terbatas dan harus dilihat secara ketat dalam konteks keadaan-keadaan yang berlaku. Apabila terdapat situasi yang memaksa seorang laki-laki mengawini lebih dari satu perempuan maka hal terpenting pertama yang harus ditekankan adalah keadilan, keseimbangan perlakuan yang benar benar adil terhadap para isteri dan terhadap para anak yatim. Jika keadilan tidak dapat dilaksanakan maka al-Qur’an menuntut laki-laki untuk tidak mengawini lebih dari satu orang isteri. Dengan kata lain poligami adalah sesuatu yang bersifat kontekstual sementara monogami adalah sesuatu yang bersifat normatif.

Analisa Kritis
Menempatkan perempuan pada posisinya sebagaimana yang diinginkan al-quran haruslah dilakukan dengan metode pembacaan yang mempertimbangkan sejarah dan konteks. Ini berarti perlu metode dan kriteria pembacaan yang bisa menjadikan teks-teks tersebut berinteraksi dengan konteksnya. Sebab pemahaman terhadap Kitab Suci akan terus berubah seiring dengan perubahan diri seorang muslim. Karena itu, perubahan akan sangat bermakna, jika umat mau membuka hatinya untuk menerima kenyataan yang ada disekelilingnya.
Sebagai sebuah agama kemanusiaan, Islam bergerak dengan menempatkan pemeluknya pada aras yang sama. Laki-laki dan perempuan dibebani dengan peran dan fungsi yang setara membangun peradabannya. Al-quran tidak memberikan legitimasi kepada laki-laki untuk berlaku diskriminai kepada perempuan atas nama agama. Ayat-ayat tuhan amat jelas dan tegas menyebutkan dua entitas manusia ini, mendapat perlakuan yang sama di hadapan-Nya. Karena itu, jika tuhan saja tidak membedakan hamba-Nya, mengapa manusia begitu berani berlaku beda dengan Sang Khalik? Sepanjang pembacaan saya, tidak ada satu ayatpun dalam Al-quran yang menyatakan bahwa Allah memberikan mandat kepada manusia jenis kelamin laki-laki mewakili diri-Nya untuk berbuat diskriminasi kepada perempuan. Pun tidak dijumpai ketentuan ilahi bahwa tuhan memiliki hubungan khusus dengan makhluk yang berjenis kelamin laki-laki.

Daftar Bacaan
Enginner, Asghar Ali. Islam dan Teologi Pembebasan. Digital Journal Al-Manar : Pustaka Pelajar,1999.
------------,Status of Women in Islam. New Delhi:Anjanta Publications, 1987.www.google.com.
------------,Islam And Liberation Theology Essays on Liberative Elements in Islam. New Delhi: Sterling Publishers Pvt. Ltd., 1990. www.google.com.
------------The Rights of Women in Islam. New York: St. Martin’s Press, 1992. www.google.com.
------------,The Qur’an, Women and Modern Society. New Delhi:Sterling Publisher Private Limited, 1999. www.google.com.
------------What I Believe (dalam Islam and Modern Age), Vol. 2 No. 7 Juli, Institute of Islamic Studies, Mumbai, India., 1999. www.google.com.
------------,Women’s Rights and Personal Law Board (Secular Perspective), October 16-31, Center for Study of Society and Secularisn, Mumbay, India. csss@vsnl.com . 2000. www.google.com.
Rahman, Fazlur.Tema Pokok Al-Qur’an. Terj, Anas Mahyuddin. Bandung: Pustaka, 1980. www.google.com.
Book Review Digital Journal Al-Manär Edisi I/2004. Copyleft 2004 Digital Journal Al-Manär. http://uin-suka.info/ejurnal Powered by Joomla! Generated: 29 November, 2009, 16:20


Catatan
Beberapa bagian besar disarikan dari tulisan Mashudi SR (Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah Aceh). Tuesday, 04 March 2008 20:00 - Last Updated Thursday, 03 April 2008 20:58 www.pdf.google.com.
leer más...

The Messenger Joan of Arc : Sebuah Analisis Film Dalam Hubungannya dengan Other Mind

| | 2 komentar

Thesis statement:
Karena bahasa kita bisa mengetahui mind orang lain, dan karena bahasa kita bisa “tidak mengetahui” mind orang lain.
Background:
“Other mind in our mind is nothing …”

Mungkin kini semua orang yang berfilsafat (bukan berarti ia mengikuti perkuliahan filsafat, tapi berfilsafat dalam arti awam, yakni berpikir lebih mendalam) sudah menyadari bahwa kita hanya bisa mengenal kamu yang berdasarkan sudut pandang aku, bukan kamu yang sebenar-benarnya kamu.
Berangkat dari Filsuf terdahulu:
Sokrates mengawali filsafatnya dengan pertanyaan “Siapakah Aku?” mengapa Sokrates mengawali pertanyaan tersebut dari tentang siapa dirinya? Mengapa ia tidak lebih dulu mempertanyakan “Siapa Kamu?” Apakah pertanyaan siapa kamu hanya merupakan pertanyaan basa-basi yang biasa kita ajukan untuk mengenal orang lain? Apakah dengan mengetahui siapa aku maka dengan serta merta aku akan mengetahui siapa kamu? Ataukah justru jangan-jangan kita mengetahui siapa aku dengan lebih dulu melihat siapa kamu, sehingga dengan menegasikan aku-aku yang lain ke dalam diri aku kemudian aku mulai merasakan bahwa aku berbeda dengan kamu dan akhirnya aku mulai bertanya siapa aku. Jangan-jangan memang Sokrates menanyakan siapa aku setelah bertemu dengan aku yang lain!
Bridge to Problem:
Bagaimana kita bisa mengetahui other mind apabila ternyata kita sendiri merasa menjadi the other bagi mind kita sendiri! Atau jangan-jangan other mind lebih bisa kita ketahui daripada our mind. Setidaknya other mind bisa kita terka lewat bahasa (walaupun bahasa dan mind sendiri masih open ended untuk diperdebatkan), namun our mind, apakah kita sering sadar ketika berdialog dengan mind kita sendiri?
Inilah klimaks yang terjadi dalam film The Messenger: Joan of Arc, saat ia mulai bicara dengan seseorang entah itu malaikat atau tuhan atau hanya cerminan dirinya sendiri, yang pasti saya masih menyebutnya dengan seseorang, karena dalam film tersebut digambarkan dengan seorang laki-laki berpakaian hitam dari ujung kepala hingga kaki, hanya wajah yang tampak. Tanpa berlama-lama terjebak dalam masalah sign dalam film tersebut, bagi saya film ini menceritakan mengenai bagaimana kehidupan seseorang yang sebenarnya tidak mau tahu dengan other mind, ia hanya menghiraukan mindnya sendiri, ia menganalogikan mind orang lain pada dirinya, ia pun sebenarnya tidak menginginkan orang lain menghiraukannya, ia hanya ingin semua apa yang menjadi tujuannya tercapai dengan alih-alih bahwa ia adalah utusan tuhan, namun terlepas dari benar tidaknya film ini saya pun tidak berani menjamin, karena film ini pun bukan berdasarkan mind joan melainkan other mind yang berusaha mengaktualisasikan mind joan dalam beberapa adegan di sebuah film.
Resensi:
Pemain:
Milla Jovovich
Dustin Hofman
John Malkovich
Faye Dunaway
Joan of Arc (1412-1431) Dilahirkan di sebuah keluarga sederhana di Perancis timur. Dalam pertumbuhannya Joan menjadi seorang yang religious, ia melakukan pengakuan dosa setiap hari. Pada usianya yang ke-13 ia mendapatkan pertanda pertamanya, ia diilhami oleh apa yang diyakininya suara Tuhan, dan menemukan pedang di padang rumput yang terbaring tepat disampingnya. Ia percaya bahwa pedang tersebut merupakan pertanda dari Tuhan.
Sesampainya di rumah, kakaknya dibunuh oleh salah satu pasukan Inggris, kemudian ia mulai merasa menemukan bahwa ia mendapatkan misi dari Tuhan untuk membawa kemenangan Perancis atas Inggris.
Joan membantu Perancis memukul balik pasukan Inggris pada akhir Perang Seratus Tahun (1337-1453). Awalnya, ia mengirim surat kepada Pangeran Charles dari Perancis, meminta pasukan untuk memenangkan pertempuran panjang tersebut.
Perjuangan Joan sebagai seorang yang dianggap mendapatkan wahyu dari Tuhan serta konflik yang terjadi pada saat ia diragukan banyak orang, dan konflik yang lebih mendalam adalah pada saat ia sendiri meragukan bahwa Tuhanlah yang memberikan wahyu kepadanya, pada akhirnya ia diadili karena dianggap penyihir, sehingga ia dihukum bakar pada usia 19 tahun. 500 tahun kemudian pihak Vatikan memutuskan bahwa ia tidak bersalah dan dikategorikan sebagai orang yang suci.
Problem:
Setting diambil saat hundred years of wars antara klan Plataginat dari Kingdom of England dan klan Valois dari Kingdom of France. Perancis sendiri sudah terpojok dan hampir kalah, apalagi setelah Kingdom of England beraliansi dengan Duchy of Burgundy.
Joan of Arc berhasil memimpin pasukan Perancis untuk merebut kembali Orleans, Reims dan beberapa kota lainnya disepanjang sungai Seine, serta membuka jalan untuk penobatan resmi Charles Valois menjadi raja Perancis di katedral Reims. Namun sayangnya Joan kalah oleh politik, dukungan Charles Valois kepada Joan mengendur setelah dia dinobatkan menjadi raja Perancis, puncaknya, CHarles dan sang ibu mertua Yolande of Aragorn menghianati Joan of Arc sehingga akhirnya Joan ditangkap oleh pasukan Burgundy dan kemudian di hukum mati dengan cara dibakar hidup-hidup.
Sebenarnya, sedari awal Joan memang diragukan, dari mulai ia mendapatkan wahyu hingga keperawanannya dipertanyakan kembali. Banyak orang yang meragukan bahwa Joan mendapatkan wahyu dari Tuhan, namun Joan justru dipercaya setelah diperiksa keperawanannya, ketika terbukti ia masih perawan, orang-orang percaya ia memang mengemban wahyu dari Tuhan. Bisa dilihat dalam pengawalan ini, sudah ada unsure berpikir yang tidak logic. Selain itu, para pasukan tidak mau dipimpin olehnya Karen ia seorang “perempuan”, Joan pun tertawa kesal, karena ia perempuan, dijadikan alasan untuk tidak berperang, maka ia dengan terpaksa memotong habis rambutnya seperti seorang laki-laki (laki-laki pada masa itu berpenampilan seperti itu). Kita juga bisa lihat kondisi pemikiran pada saat itu dari sedikit kejadian ini.
Diawal kedatangannya, ia diuji oleh Charles Valois dan mertua Yolande of Aragorn apakah Joan bisa menebak yang mana baginda pangeran. Ternyata bukan hanya tepat menebak yang mana Charles melainkan ia juga tahu pikiran orang-orang disekitarnya pada saat itu. Maka orang-orang terkesima dan menganggap memang ia tidak berbohong soal mendapatkan wahyu.
Mungkin berbeda dengan kaum behaviorisme dalam memandang other mind, dalam kondisi pada masa itu, Joan yang bisa menerka pikiran orang lain memang dianggap berbeda dan karenanya dianggap mendapatkan wahyu dari Tuhan. Ada beberapa dialog juga, misalnya pada saat menyusun strategi untuk berperang, Joan dengan mudah mengetahui apa yang dipikirkan dan apa yang akan dilakukan oleh klan Plataginat dari Kingdom of England.
Memang terkesan hebat, orang-orang mulai percaya dan berhati-hati dengan Joan, namun sayang ternyata dibalik ke-tahu-annya akan pikiran orang, pada akhirnya ada saat-saat ia meleset, hingga ia sempat hampir terbunuh oleh panah salah satu pasukan Perancis, walaupun pada akhirnya pertempuran dimenangkannya. Yang lebih nyata, ketika Charles dan sang mertua mengkhianatinya. Jikalau memang ia bisa tahu other mind, seharusnya ia tahu bahwa Pangeran Charles hanya menginginkan kekuasaan, bukan untuk mendukungnya bertempur dengan Inggris. Dan jikalau memang ia juga tahu bagaimana pikiran orang inggris, seharusnya ia tahu bahwa orang inggris memang sangat menginginkan kematiannya, selain itu ia sempat beberapa kali dibohongi.
Setelah diakumulasikan, pertanda-pertanda yang selama ini dianggap sebagai suara Tuhan hanya datang ketika keadaannya sedang tenang, saat menghadapi pertempuran dan sedang diadili ia tidak merasakan pertanda itu. Apakah suara Tuhan dapat dienyahkan dengan suatu kondisi dan hal-hal politis? Dan apakah ternyata other mind hanya bisa kita rasuki ketika other mind sesuai dengan mind kita? Dan ketika other mind sudah bentrok dengan mind kita maka kita tidak akan tahu lagi other mind itu? Apakah other mind seperti itu?
Dalam film ini, Joan tidak pernah membohongi orang lain, sehingga ia berpikir tidak akan dibohongi orang lain, Joan tidak pernah berkhianat terhadap Charles, terbukti ketika sebenarnya ia tidak mau berperang dengan melukai orang lain namun karena sudah janji kepada Charles akan membawa kemenangan, maka ia terpaksa mengayuhkan pedangnya, dan ia menganggap bahwa Charles tidak akan mengkhianatinya. Ia mengafirmasikan dirinya kepada orang lain. Joan menganggap pikiran orang lain sama dengannya, yang berpikir seperti “ini”. Inilah yang sebenarnya membawa malapetaka baginya, bukan sekedar karena factor politis dan subjektifis. Andai saja, ia tidak menganggap orang lain berpikiran sama dengannya, mungkin sesekali ia berpikir “negative” dan tidak langsung mengambil kesimpulan secara terburu-buru bahwa “ini seperti ini” atau “ini seperti itu”, mungkin ia yang sedang dijebak bisa membuat jebakan kembali untuk orang-orang itu, dan mungkin tidak akan sampai dibakar hidup-hidup. Sayangnya, lagi-lagi ia tidak pernah menjebak orang lain dan beranggapan orang lain pun tidak akan menjebaknya.
Kepolosannya dan backgroundnya yang memang tidak bergaul dengan banyak orang mungkin menjadi salah satu factor yang membuatnya agak tumpul dalam menerka mind orang diluarnya. Namun, mengapa ketika mendapatkan pertanda ia sangat tajam menerka mind orang lain???
Analisis:
 Sedikit intermezzo :
Kisah luar biasa yang dialami Joan of Arc telah menjadi sumber ilham bagi para penulis Perancis, mulai dari Voltaire hingga pengarang masa kini.
Pernyataannya tentang ilham Ilahi dan keberhasilannya memukul mundur pasukan penyerbu Inggris, membuat dirinya sebagai simbol yang kuat kebangkitan bangsa Perancis.
Dia kemudian menjadi inspirasi mistis bagi para nasionalis Katolik Perancis dan telah digunakan secara kontroversial sebagai emblem partai Front Nasional ekstrim kanan pimpinan Jean-Marie Le Pen, yang memperingati kematiannya setiap tahun (www.google//Joan-of-Arc.com).
Abu Joan of Arc, yang kini berada di bawah pengawasan sebuah asosiasi sejarah Perancis dan sekarang ini menjadi milik Gereja Katolik Roma di Tours, barat daya Perancis, merupakan satu-satunya jejak yang tersisa tentang dirinya.
 Berangkat dari Backgrund:
“Other mind in our mind is nothing”
 Berdasarkan problem:
“Other mind is not same with our mind”
Mungkin memang secara awam terbilang mudah untuk mengatasi problem tersebut, bahwa wajar apabila kita tidak selalu mengetahui isi pikiran orang, toh memang kita tidak mempunyai akses yang lengkap untuk masuk kedalam pikiran orang lain. Sesuai dengan film ini, konflik perbedaan pikiran mungkin menjadi satu suasana yang biasa, yang tidak biasa justru ketika konflik dengan pikirannya sendiri. Is we are the other for our mind?
 Meminta bantuan para psikolog awal (Wund dan Titchner)
Dalam pertengahan ending film ini, Joan mulai memikirkan pertanda-pertanda yang datang padanya, ia pun mengimajinasikan suara Tuhan dengan hembusan angin dan rumput-rumput serta daun-daun yang berterbangan, ia mengimajinasikan perintah Tuhan dengan symbol lelaki yang menjentikkan telunjuk ke arahnya.
Berbagai imaji-imaji yang ia yakini sebagai pertanda, membuatnya berpikir kembali apakah benar itu sebuah pertanda, dan ia mulai bertanya kembali, untuk apa tuhan memberikan misi padanya, dan apakah tuhan membutuhkan bantuannya? Banyak sekali konflik perang sabil (perang dalam pikiran sendiri) yang dimunculkan ketika ia dipenjara, yang sangat menarik adalah mengenai pedang yang ia temukan di padang rumput yang ia anggap sebagai pertanda dari tuhan, akhirnya ia memikirkan kembali berbagai kemungkinan pedang tersebut ada di sampingnya, memang mungkin jangan-jangan bukan dari tuhan. Ia kembali menyendiri seperti dulu ketika berusia 13 tahun. Dulu ketika menenangkan diri dengan cara menyendiri, pikiran Joan menjadi sangat tajam dan bahkan bisa menembus other mind, pada saat itu pula ia mendapatkan pertanda-pertanda yang dianggapnya suara tuhan, mungkin ketajaman yang didapatkannya karena ketika introspeksi ia dapat mengendalikan perasaan dan pikirannya seperti halnya seorang atlit yang dapat menguasai badannya.
Ada dua sumber munculnya gelombang-gelombang pikiran, yaitu dari persepsi inderawi dan dari ingatan-ingatan. (Sejarah Filsafat India, hal.59) Mungkin sementara, kita bisa tahu dari backgroundnya yang religious yang menjadi sensasi-sensai senderhana, seperti ketika ia ingin bersama Tuhan kemudian ia meneguk anggur dalam cawan di gereja sebanyak-banyaknya, dengan melakukan pengakuan dosa setiap hari sehingga dari imaji-imajinya itulah menciptakan proses berpikir yang sedemikian rupa sehingga ia menjadi Joan of Arc.
Ingatan-ingatannya mengenai pembunuhan kakaknya oleh tentara inggris sering hadir dalam mimpinya. Tidak ada satupun pada saat itu dan mungkin hingga sekarang yang benar-benar tahu bagaimana pikiran Joan. Memang benar bahwa satu-satunya metode adalah introspeksi, karena hanya Joan yang memiiki sensasi itu yang dapat tahu dan menerangkannya.
“Other mind is other mind ..
We never to know how other mind moreover our mind also”

 Kembali pada masalah bahasa
Problem juga muncul, dalam permasalahan bahasa. Pikiran joan yang yakin terhadap suara tuhan terrepresentasikan dalam bahasanya yang sangat religious dan terkadang tanpa logika. Berbeda dengan para pasukan yang dibentuk untuk menghadapi perang, bahasa-bahasa yang mereka gunakan bahasa yang politis, begitu juga dengan pangeran Charles. Perbedaan cara berpikir bisa menimbulkan perbedaan bahasa dan tindakan.
Joan yang terjebak secara politis oleh dua pihak, yakni Perancis dan Inggris memang tidak bisa disalahkan, karena Joan tidak mungkin mengetahui pengalaman langsung pikiran kedua pihak tersebut, karena Joan hanya menggunakan analogi dengan dirinya sendiri. Memang benar bahwa ketika Joan mulai mengetahui dirinya sendiri, pengetahuan Joan tentang dirinya sendiri tidak berbeda secara kualitatif dengan pengetahuan orang lain atas diri Joan oleh orang lain.
Joan hanya mengetahui mind Charles lewat tindakan-tindakan atau kata-katanya, seperti ketika Charles tidak lagi mendukungnya, atau seperti bagaimana salah satu orang Inggris mengganti pakaiannya dengan pakaian pria, ketika hakim memintanya menandatangani kontrak, ketika hakim menjanjikannya untuk dapat melakukan pengakuan dosa dan lain sebagainya.
Joan mengalami pengalaman subjektif mengenai pertanda yang dia yakini sebagai suara tuhan secara langsung dan hanya ia yang tahu, merasakan. Jika bahasa bersifat shared, apakah bisa menerangkan dan menyampaikan pengalaman subjektif?
Kebanyakan orang pada masa Joan, tidak dapat menangkap setiap bahasa yang terucap berdasarkan pikiran Joan, akhirnya terjadi “ketidakpahaman”, yang mereka pahami Joan adalah penyihir. Apa yang disampaikan Joan ternyata tidak dapat masuk ke dalam mind orang lain, apakah karena kesalahan bahasa?
Orang-orang menganggap Joan penyihir juga karena ada factor politis, ada mitos yang disebarluaskan oleh para petinggi inggris agar Joan dihukum. Ini semakin menyakitkan, ketika bahasa menjadi sarana manipulasi, sehingga merasuk ke dalam mind orang yang akhirnya tidak lagi dapat berpikir jernih. Tapi ini membuktikan bahwa bahasa bisa menjadi sarana untuk menyampaikan tujuan dari satu mind ke mind yang lain.
Joan hanya bisa menceritakan pertanda-pertanda yang datang padanya kepada Charles (walaupun sebenarnya Charles mendengarkan Joan bukan karena percaya akan apa yang dialaminya melainkan hanya karena menginginkan kekuasaan) dan ia pun tahu bahwa semua orang pada saat itu tidak akan mengerti apa yang ia katakan, Joan sangat kebingungan harus berkata seperti apa untuk menyampaikan apa yang dialaminya dan apa yang menjadi tujuannya, hingga di pengadilan ia berbohong. Inilah saat dimana bahasa sebenarnya tidak lagi mampu menjadi sarana untuk menyampaikan sesuatu. Karena bahasa kita bisa mengetahui mind orang lain, dan karena bahasa kita bisa “tidak mengetahui” mind orang lain.

Kesimpulan:
Kalau bahasa bisa menjadi perantara yang paling sempurna untuk menyampaikan sesuatu seharusnya Joan tidak perlu dibakar.

Sumber:
Film The Messenger: Joan of Arc
Director: Luc Besson
Writers: Andrew Birkin (written by) & Luc Besson (written by)
Release Date: 12 November 1999 (USA)
Genre:Biography | Drama | History | War
Also Known As: Joan of Arc (Australia) (Philippines: English title) (UK)Jeanne d'Arc (France)
MPAA:Rated R for strong graphic battles, a rape and some language.
Runtime: 160 min | USA:148 min
Country:France
Language:English

Daftar bacaan:
Suwira, I Wayan. Buku Ajar Sejarah Filsafat India. Departement Filsafat.2007
id.wikipedia.org/wiki/Jeanne_d'Arc
en.wikipedia.org/wiki/Joan_of_Arc
id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Joan_of_arc_miniature_graded.jpg
www.imdb.com/Title?0151137
www.imdb.com/title/tt0178145/
leer más...
 
 

Diseñado por: Compartidísimo
Con imágenes de: Scrappingmar©

 
Ir Arriba