Jika motherhood adalah sebuah konsep yang menjelaskan masa yang dijalani perempuan selama proses menjadi seorang ibu. Yang menjadi sebuah tanda tanya besar adalah apakah konsep ini merupakan konsep yang sifatnya given atau hanya sebuah konstruksi? Sebenarnya feminisme radikal, cultural, maupun marxis sosialis coba mengangkat persoalan tersebut, bukan sekedar sebagai masalah posisi perempuan dan body, tetapi juga mencakup pertanyaan mengenai perempuan ideal dalam upaya memahami motherhood.
Belakangan ini gencar usaha safe motherhood. Safe Motherhood adalah usaha-usaha yang dilakukan agar seluruh perempuan menerima perawatan yang me¬reka butuhkan selama hamil dan bersalin. Program itu terdiri dari empat pilar yaitu ke¬luarga berencana, pelayanan antenatal, per¬salinan yang aman, dan pelayanan obs¬te¬tri esensial. Namun demikian apakah usaha tersebut merupakan usaha memanusiakan perempuan, atau hanya patriarkhy dalam kemasan baru? Menurut saya, perempuan bisa menjadi motherhood bukan karena adanya berbagai gerakan yang terus “melindungi” perempuan layaknya “sesuatu” yang langka dan harus dilestarikan, melainkan sebuah gerakan yang menyadarkan dan mengaktifkan nalar perempuan, dan hanya perempuan sendiri yang bisa, diluar hal-hal eksternal yang membantu.
Mungkin akan menjadi bias ketika saya menganggap motherhood berada pada posisi keseimbangan antara yang natural dan social. Dalam pandangan natural perempuan punya kemampuan reproduksi biologis, sekaligus punya hak atas tubuh dan kebebasannya, sedangkan dalam kultural perempuan punya naluri social untuk menjadi penjaga dan pemelihara, dan penggabungan keduanya merupakan apresiasi terhadap kemampuan reproduksi perempuan yang juga menjadi anugerah luar biasa sekaligus penghargaan terhadap kebebasan perempuan yang dengan kesungguhan jiwa dan raga bersedia menikmati kesulitan menjadi ibu dengan diwarnai kecemasan, ketakutan bahkan ancaman kehilangan nyawa. Memang titik berangkat kedua pandangan tersebut tidak ada salahnya, menjadi seorang motherhood bisa merupakan hal yang natural sekaligus social, namun demikian dengan melihat dan mengkondisikan realitas yang ada dengan akal sehat kita untuk dirunut, maka motherhood yang selama ini didengung-dengungkan hanyalah sebuah konvensi, sebuah konstruksi bagaimana menjadi seorang ibu yang ideal. Sehingga kadang seorang ibu pun lupa menjadi seorang ibu yang benar-benar ibu itu seperti apa.
Selasa, 24 November 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar