Pemikiran para filsuf muslim merupakan sintesa sistematis antara ajaran-ajaran Islam, Aristotelianisme, dan NeoPlatonisme yang bertujuan untuk mengharmoniskan hubungan antara filsafat dan ajaran islam. Salah satunya adalah Suhrawardi yang memperkenalkan filsafat iluminasi yang bersumber dari hasil dialog spiritual dan intelektual dengan tradisi-tradisi dan agama-agama lain. Suhrawardi emperkenalkan diri sebagai penyatu kembali apa yang disebutnya sebagai hikmat al-ladunniyat dan al-hikmat al-atiqat.
Ia mengutarakan rasa kekecewaannya pada kelompok paripatetik muslim, karena dianggap gagal mencapai visi dan misi filosofis ketimuran. Kegagalan kelompok paripatetik diakibatkan permasalahan yang sangat fundamental yang berakhir pada konklusi yang berbeda. Kaum paripatetik selalu membatasi kebenaran pada limit dan nilai-nilai
demonstrative yang akhirnya membelenggu mereka pada lingkarang teoritis saja.
Kemunculan filsafat iluminasi dimulai dalam buku al-talwihat. Pengetahuan mistik iluminatif modus kontemplasi pada kekuatan imajinasi dan intuisi, pelepasan jiwa dari kerendahan jasad, lebih menjadi prioritas menempuh pengetahuan metafisik, tapi setelah itu ditemukan argument-argumen filosofis diskursif memainkan perannya dan melakukan penalaran layaknya kaum paripatetik muslim.
Dalam al-talwihat, terdapat dua bagian penting yang dituliskan oleh Suhrawardi, yakni :
1. Kritik terhadap para filsuf muslim paripatetik dalam hal epistemology, yakni logika dan ilmu pengetahuan. Dalam ilmu pengetahuan terdapat dua bagian, yakni yang husuli dan huduri. Dalam husuli dibutuhkan observasi empiris dan rasional. Namun ternyata observasi tersebut kurang memadai sehingga ditambahkan dalam pengetahuan yang huduri yakni observasi rohani.
2. Mengenai sufi, yang melahirkan iluminasi yang kemudian terbagi menjadi metodologis, ontologism, dan kosmologis.
Tujuan filsafat iluminasi diarahkan pada sasaran yang bersifat teoritis disamping sisi praktis yang dapat dicapai, arah tersebut dimulai dengan penyucian diri dari segala kotoran baik secara rohani maupun jasmani. Dalam filsafat iluminasi being tidak semata-mata antroposentris melainkan dicarger oleh cahaya yakni Tuhan. Semakin orang menyatu dengan Tuhan maka moral semakin baik.
Perbedaan terang antara filsafat paripatetik dengan filsafat iluminasi diantaranya adalah :
Filsafat Paripatetik
Menggunakan metode burhani.
Sama dengan filsafat barat hanya saja menggunakan ajaran islam sebagai kajian.
Mengakui eksistensi Tuhan.
Pengetahuan dicari secara empiris sehingga bisa disebut antroposentris.
Filsafat Iluminasi
Menggunakan metode burhani dan irfani.
Tidak sama dengan filsafat barat, kembali ke filsafat timur.
Tuhan sebagai sumber pengetahuan.
Seperti filsafat pada umumnya namun bertumpu pada pendekatan sufistik, sehingga bisa disebut menggunakan pendekatan rasional filosofis atau teosentris.
Filsafat iluminasi adalah penyeimbang arus paripatetik yang keduanya memiliki tujuan yang sama, walau masing-masing menempuh jalan yang berbeda, yaitu merumuskan kembali jalan yang lurus menuju suatu kehidupan yang filosofis yang dipenuhi udara kebenaran, juga menjadi sarana yang secara ilmiah lebih valid dalam meneliti sifat dan hakikat, serta media utama mencapai kebahagiaan, dan meraih kebijaksanaan yang lebih praktis, yang digunakan untuk mengabdi kepada kekuasaan sang maha adil atau Wujud Niscaya atau Tuhan.
Selasa, 24 November 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

ikut nyimak...puri... baut tambahan materi diskusi. di solo institute...
BalasHapusHalo ...
BalasHapusTerimakasih ^_^