Thesis statement:
Karena bahasa kita bisa mengetahui mind orang lain, dan karena bahasa kita bisa “tidak mengetahui” mind orang lain.
Background:
“Other mind in our mind is nothing …”
Mungkin kini semua orang yang berfilsafat (bukan berarti ia mengikuti perkuliahan filsafat, tapi berfilsafat dalam arti awam, yakni berpikir lebih mendalam) sudah menyadari bahwa kita hanya bisa mengenal kamu yang berdasarkan sudut pandang aku, bukan kamu yang sebenar-benarnya kamu.
Berangkat dari Filsuf terdahulu:
Sokrates mengawali filsafatnya dengan pertanyaan “Siapakah Aku?” mengapa Sokrates mengawali pertanyaan tersebut dari tentang siapa dirinya? Mengapa ia tidak lebih dulu mempertanyakan “Siapa Kamu?” Apakah pertanyaan siapa kamu hanya merupakan pertanyaan basa-basi yang biasa kita ajukan untuk mengenal orang lain? Apakah dengan mengetahui siapa aku maka dengan serta merta aku akan mengetahui siapa kamu? Ataukah justru jangan-jangan kita mengetahui siapa aku dengan lebih dulu melihat siapa kamu, sehingga dengan menegasikan aku-aku yang lain ke dalam diri aku kemudian aku mulai merasakan bahwa aku berbeda dengan kamu dan akhirnya aku mulai bertanya siapa aku. Jangan-jangan memang Sokrates menanyakan siapa aku setelah bertemu dengan aku yang lain!
Bridge to Problem:
Bagaimana kita bisa mengetahui other mind apabila ternyata kita sendiri merasa menjadi the other bagi mind kita sendiri! Atau jangan-jangan other mind lebih bisa kita ketahui daripada our mind. Setidaknya other mind bisa kita terka lewat bahasa (walaupun bahasa dan mind sendiri masih open ended untuk diperdebatkan), namun our mind, apakah kita sering sadar ketika berdialog dengan mind kita sendiri?
Inilah klimaks yang terjadi dalam film The Messenger: Joan of Arc, saat ia mulai bicara dengan seseorang entah itu malaikat atau tuhan atau hanya cerminan dirinya sendiri, yang pasti saya masih menyebutnya dengan seseorang, karena dalam film tersebut digambarkan dengan seorang laki-laki berpakaian hitam dari ujung kepala hingga kaki, hanya wajah yang tampak. Tanpa berlama-lama terjebak dalam masalah sign dalam film tersebut, bagi saya film ini menceritakan mengenai bagaimana kehidupan seseorang yang sebenarnya tidak mau tahu dengan other mind, ia hanya menghiraukan mindnya sendiri, ia menganalogikan mind orang lain pada dirinya, ia pun sebenarnya tidak menginginkan orang lain menghiraukannya, ia hanya ingin semua apa yang menjadi tujuannya tercapai dengan alih-alih bahwa ia adalah utusan tuhan, namun terlepas dari benar tidaknya film ini saya pun tidak berani menjamin, karena film ini pun bukan berdasarkan mind joan melainkan other mind yang berusaha mengaktualisasikan mind joan dalam beberapa adegan di sebuah film.
Resensi:
Pemain:
Milla Jovovich
Dustin Hofman
John Malkovich
Faye Dunaway
Joan of Arc (1412-1431) Dilahirkan di sebuah keluarga sederhana di Perancis timur. Dalam pertumbuhannya Joan menjadi seorang yang religious, ia melakukan pengakuan dosa setiap hari. Pada usianya yang ke-13 ia mendapatkan pertanda pertamanya, ia diilhami oleh apa yang diyakininya suara Tuhan, dan menemukan pedang di padang rumput yang terbaring tepat disampingnya. Ia percaya bahwa pedang tersebut merupakan pertanda dari Tuhan.
Sesampainya di rumah, kakaknya dibunuh oleh salah satu pasukan Inggris, kemudian ia mulai merasa menemukan bahwa ia mendapatkan misi dari Tuhan untuk membawa kemenangan Perancis atas Inggris.
Joan membantu Perancis memukul balik pasukan Inggris pada akhir Perang Seratus Tahun (1337-1453). Awalnya, ia mengirim surat kepada Pangeran Charles dari Perancis, meminta pasukan untuk memenangkan pertempuran panjang tersebut.
Perjuangan Joan sebagai seorang yang dianggap mendapatkan wahyu dari Tuhan serta konflik yang terjadi pada saat ia diragukan banyak orang, dan konflik yang lebih mendalam adalah pada saat ia sendiri meragukan bahwa Tuhanlah yang memberikan wahyu kepadanya, pada akhirnya ia diadili karena dianggap penyihir, sehingga ia dihukum bakar pada usia 19 tahun. 500 tahun kemudian pihak Vatikan memutuskan bahwa ia tidak bersalah dan dikategorikan sebagai orang yang suci.
Problem:
Setting diambil saat hundred years of wars antara klan Plataginat dari Kingdom of England dan klan Valois dari Kingdom of France. Perancis sendiri sudah terpojok dan hampir kalah, apalagi setelah Kingdom of England beraliansi dengan Duchy of Burgundy.
Joan of Arc berhasil memimpin pasukan Perancis untuk merebut kembali Orleans, Reims dan beberapa kota lainnya disepanjang sungai Seine, serta membuka jalan untuk penobatan resmi Charles Valois menjadi raja Perancis di katedral Reims. Namun sayangnya Joan kalah oleh politik, dukungan Charles Valois kepada Joan mengendur setelah dia dinobatkan menjadi raja Perancis, puncaknya, CHarles dan sang ibu mertua Yolande of Aragorn menghianati Joan of Arc sehingga akhirnya Joan ditangkap oleh pasukan Burgundy dan kemudian di hukum mati dengan cara dibakar hidup-hidup.
Sebenarnya, sedari awal Joan memang diragukan, dari mulai ia mendapatkan wahyu hingga keperawanannya dipertanyakan kembali. Banyak orang yang meragukan bahwa Joan mendapatkan wahyu dari Tuhan, namun Joan justru dipercaya setelah diperiksa keperawanannya, ketika terbukti ia masih perawan, orang-orang percaya ia memang mengemban wahyu dari Tuhan. Bisa dilihat dalam pengawalan ini, sudah ada unsure berpikir yang tidak logic. Selain itu, para pasukan tidak mau dipimpin olehnya Karen ia seorang “perempuan”, Joan pun tertawa kesal, karena ia perempuan, dijadikan alasan untuk tidak berperang, maka ia dengan terpaksa memotong habis rambutnya seperti seorang laki-laki (laki-laki pada masa itu berpenampilan seperti itu). Kita juga bisa lihat kondisi pemikiran pada saat itu dari sedikit kejadian ini.
Diawal kedatangannya, ia diuji oleh Charles Valois dan mertua Yolande of Aragorn apakah Joan bisa menebak yang mana baginda pangeran. Ternyata bukan hanya tepat menebak yang mana Charles melainkan ia juga tahu pikiran orang-orang disekitarnya pada saat itu. Maka orang-orang terkesima dan menganggap memang ia tidak berbohong soal mendapatkan wahyu.
Mungkin berbeda dengan kaum behaviorisme dalam memandang other mind, dalam kondisi pada masa itu, Joan yang bisa menerka pikiran orang lain memang dianggap berbeda dan karenanya dianggap mendapatkan wahyu dari Tuhan. Ada beberapa dialog juga, misalnya pada saat menyusun strategi untuk berperang, Joan dengan mudah mengetahui apa yang dipikirkan dan apa yang akan dilakukan oleh klan Plataginat dari Kingdom of England.
Memang terkesan hebat, orang-orang mulai percaya dan berhati-hati dengan Joan, namun sayang ternyata dibalik ke-tahu-annya akan pikiran orang, pada akhirnya ada saat-saat ia meleset, hingga ia sempat hampir terbunuh oleh panah salah satu pasukan Perancis, walaupun pada akhirnya pertempuran dimenangkannya. Yang lebih nyata, ketika Charles dan sang mertua mengkhianatinya. Jikalau memang ia bisa tahu other mind, seharusnya ia tahu bahwa Pangeran Charles hanya menginginkan kekuasaan, bukan untuk mendukungnya bertempur dengan Inggris. Dan jikalau memang ia juga tahu bagaimana pikiran orang inggris, seharusnya ia tahu bahwa orang inggris memang sangat menginginkan kematiannya, selain itu ia sempat beberapa kali dibohongi.
Setelah diakumulasikan, pertanda-pertanda yang selama ini dianggap sebagai suara Tuhan hanya datang ketika keadaannya sedang tenang, saat menghadapi pertempuran dan sedang diadili ia tidak merasakan pertanda itu. Apakah suara Tuhan dapat dienyahkan dengan suatu kondisi dan hal-hal politis? Dan apakah ternyata other mind hanya bisa kita rasuki ketika other mind sesuai dengan mind kita? Dan ketika other mind sudah bentrok dengan mind kita maka kita tidak akan tahu lagi other mind itu? Apakah other mind seperti itu?
Dalam film ini, Joan tidak pernah membohongi orang lain, sehingga ia berpikir tidak akan dibohongi orang lain, Joan tidak pernah berkhianat terhadap Charles, terbukti ketika sebenarnya ia tidak mau berperang dengan melukai orang lain namun karena sudah janji kepada Charles akan membawa kemenangan, maka ia terpaksa mengayuhkan pedangnya, dan ia menganggap bahwa Charles tidak akan mengkhianatinya. Ia mengafirmasikan dirinya kepada orang lain. Joan menganggap pikiran orang lain sama dengannya, yang berpikir seperti “ini”. Inilah yang sebenarnya membawa malapetaka baginya, bukan sekedar karena factor politis dan subjektifis. Andai saja, ia tidak menganggap orang lain berpikiran sama dengannya, mungkin sesekali ia berpikir “negative” dan tidak langsung mengambil kesimpulan secara terburu-buru bahwa “ini seperti ini” atau “ini seperti itu”, mungkin ia yang sedang dijebak bisa membuat jebakan kembali untuk orang-orang itu, dan mungkin tidak akan sampai dibakar hidup-hidup. Sayangnya, lagi-lagi ia tidak pernah menjebak orang lain dan beranggapan orang lain pun tidak akan menjebaknya.
Kepolosannya dan backgroundnya yang memang tidak bergaul dengan banyak orang mungkin menjadi salah satu factor yang membuatnya agak tumpul dalam menerka mind orang diluarnya. Namun, mengapa ketika mendapatkan pertanda ia sangat tajam menerka mind orang lain???
Analisis:
Sedikit intermezzo :
Kisah luar biasa yang dialami Joan of Arc telah menjadi sumber ilham bagi para penulis Perancis, mulai dari Voltaire hingga pengarang masa kini.
Pernyataannya tentang ilham Ilahi dan keberhasilannya memukul mundur pasukan penyerbu Inggris, membuat dirinya sebagai simbol yang kuat kebangkitan bangsa Perancis.
Dia kemudian menjadi inspirasi mistis bagi para nasionalis Katolik Perancis dan telah digunakan secara kontroversial sebagai emblem partai Front Nasional ekstrim kanan pimpinan Jean-Marie Le Pen, yang memperingati kematiannya setiap tahun (www.google//Joan-of-Arc.com).
Abu Joan of Arc, yang kini berada di bawah pengawasan sebuah asosiasi sejarah Perancis dan sekarang ini menjadi milik Gereja Katolik Roma di Tours, barat daya Perancis, merupakan satu-satunya jejak yang tersisa tentang dirinya.
Berangkat dari Backgrund:
“Other mind in our mind is nothing”
Berdasarkan problem:
“Other mind is not same with our mind”
Mungkin memang secara awam terbilang mudah untuk mengatasi problem tersebut, bahwa wajar apabila kita tidak selalu mengetahui isi pikiran orang, toh memang kita tidak mempunyai akses yang lengkap untuk masuk kedalam pikiran orang lain. Sesuai dengan film ini, konflik perbedaan pikiran mungkin menjadi satu suasana yang biasa, yang tidak biasa justru ketika konflik dengan pikirannya sendiri. Is we are the other for our mind?
Meminta bantuan para psikolog awal (Wund dan Titchner)
Dalam pertengahan ending film ini, Joan mulai memikirkan pertanda-pertanda yang datang padanya, ia pun mengimajinasikan suara Tuhan dengan hembusan angin dan rumput-rumput serta daun-daun yang berterbangan, ia mengimajinasikan perintah Tuhan dengan symbol lelaki yang menjentikkan telunjuk ke arahnya.
Berbagai imaji-imaji yang ia yakini sebagai pertanda, membuatnya berpikir kembali apakah benar itu sebuah pertanda, dan ia mulai bertanya kembali, untuk apa tuhan memberikan misi padanya, dan apakah tuhan membutuhkan bantuannya? Banyak sekali konflik perang sabil (perang dalam pikiran sendiri) yang dimunculkan ketika ia dipenjara, yang sangat menarik adalah mengenai pedang yang ia temukan di padang rumput yang ia anggap sebagai pertanda dari tuhan, akhirnya ia memikirkan kembali berbagai kemungkinan pedang tersebut ada di sampingnya, memang mungkin jangan-jangan bukan dari tuhan. Ia kembali menyendiri seperti dulu ketika berusia 13 tahun. Dulu ketika menenangkan diri dengan cara menyendiri, pikiran Joan menjadi sangat tajam dan bahkan bisa menembus other mind, pada saat itu pula ia mendapatkan pertanda-pertanda yang dianggapnya suara tuhan, mungkin ketajaman yang didapatkannya karena ketika introspeksi ia dapat mengendalikan perasaan dan pikirannya seperti halnya seorang atlit yang dapat menguasai badannya.
Ada dua sumber munculnya gelombang-gelombang pikiran, yaitu dari persepsi inderawi dan dari ingatan-ingatan. (Sejarah Filsafat India, hal.59) Mungkin sementara, kita bisa tahu dari backgroundnya yang religious yang menjadi sensasi-sensai senderhana, seperti ketika ia ingin bersama Tuhan kemudian ia meneguk anggur dalam cawan di gereja sebanyak-banyaknya, dengan melakukan pengakuan dosa setiap hari sehingga dari imaji-imajinya itulah menciptakan proses berpikir yang sedemikian rupa sehingga ia menjadi Joan of Arc.
Ingatan-ingatannya mengenai pembunuhan kakaknya oleh tentara inggris sering hadir dalam mimpinya. Tidak ada satupun pada saat itu dan mungkin hingga sekarang yang benar-benar tahu bagaimana pikiran Joan. Memang benar bahwa satu-satunya metode adalah introspeksi, karena hanya Joan yang memiiki sensasi itu yang dapat tahu dan menerangkannya.
“Other mind is other mind ..
We never to know how other mind moreover our mind also”
Kembali pada masalah bahasa
Problem juga muncul, dalam permasalahan bahasa. Pikiran joan yang yakin terhadap suara tuhan terrepresentasikan dalam bahasanya yang sangat religious dan terkadang tanpa logika. Berbeda dengan para pasukan yang dibentuk untuk menghadapi perang, bahasa-bahasa yang mereka gunakan bahasa yang politis, begitu juga dengan pangeran Charles. Perbedaan cara berpikir bisa menimbulkan perbedaan bahasa dan tindakan.
Joan yang terjebak secara politis oleh dua pihak, yakni Perancis dan Inggris memang tidak bisa disalahkan, karena Joan tidak mungkin mengetahui pengalaman langsung pikiran kedua pihak tersebut, karena Joan hanya menggunakan analogi dengan dirinya sendiri. Memang benar bahwa ketika Joan mulai mengetahui dirinya sendiri, pengetahuan Joan tentang dirinya sendiri tidak berbeda secara kualitatif dengan pengetahuan orang lain atas diri Joan oleh orang lain.
Joan hanya mengetahui mind Charles lewat tindakan-tindakan atau kata-katanya, seperti ketika Charles tidak lagi mendukungnya, atau seperti bagaimana salah satu orang Inggris mengganti pakaiannya dengan pakaian pria, ketika hakim memintanya menandatangani kontrak, ketika hakim menjanjikannya untuk dapat melakukan pengakuan dosa dan lain sebagainya.
Joan mengalami pengalaman subjektif mengenai pertanda yang dia yakini sebagai suara tuhan secara langsung dan hanya ia yang tahu, merasakan. Jika bahasa bersifat shared, apakah bisa menerangkan dan menyampaikan pengalaman subjektif?
Kebanyakan orang pada masa Joan, tidak dapat menangkap setiap bahasa yang terucap berdasarkan pikiran Joan, akhirnya terjadi “ketidakpahaman”, yang mereka pahami Joan adalah penyihir. Apa yang disampaikan Joan ternyata tidak dapat masuk ke dalam mind orang lain, apakah karena kesalahan bahasa?
Orang-orang menganggap Joan penyihir juga karena ada factor politis, ada mitos yang disebarluaskan oleh para petinggi inggris agar Joan dihukum. Ini semakin menyakitkan, ketika bahasa menjadi sarana manipulasi, sehingga merasuk ke dalam mind orang yang akhirnya tidak lagi dapat berpikir jernih. Tapi ini membuktikan bahwa bahasa bisa menjadi sarana untuk menyampaikan tujuan dari satu mind ke mind yang lain.
Joan hanya bisa menceritakan pertanda-pertanda yang datang padanya kepada Charles (walaupun sebenarnya Charles mendengarkan Joan bukan karena percaya akan apa yang dialaminya melainkan hanya karena menginginkan kekuasaan) dan ia pun tahu bahwa semua orang pada saat itu tidak akan mengerti apa yang ia katakan, Joan sangat kebingungan harus berkata seperti apa untuk menyampaikan apa yang dialaminya dan apa yang menjadi tujuannya, hingga di pengadilan ia berbohong. Inilah saat dimana bahasa sebenarnya tidak lagi mampu menjadi sarana untuk menyampaikan sesuatu. Karena bahasa kita bisa mengetahui mind orang lain, dan karena bahasa kita bisa “tidak mengetahui” mind orang lain.
Kesimpulan:
Kalau bahasa bisa menjadi perantara yang paling sempurna untuk menyampaikan sesuatu seharusnya Joan tidak perlu dibakar.
Sumber:
Film The Messenger: Joan of Arc
Director: Luc Besson
Writers: Andrew Birkin (written by) & Luc Besson (written by)
Release Date: 12 November 1999 (USA)
Genre:Biography | Drama | History | War
Also Known As: Joan of Arc (Australia) (Philippines: English title) (UK)Jeanne d'Arc (France)
MPAA:Rated R for strong graphic battles, a rape and some language.
Runtime: 160 min | USA:148 min
Country:France
Language:English
Daftar bacaan:
Suwira, I Wayan. Buku Ajar Sejarah Filsafat India. Departement Filsafat.2007
id.wikipedia.org/wiki/Jeanne_d'Arc
en.wikipedia.org/wiki/Joan_of_Arc
id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Joan_of_arc_miniature_graded.jpg
www.imdb.com/Title?0151137
www.imdb.com/title/tt0178145/
Kamis, 28 Januari 2010
The Messenger Joan of Arc : Sebuah Analisis Film Dalam Hubungannya dengan Other Mind
Diposting oleh Puri Kurniasih | di 02.59 |
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Bagus, bagus...
BalasHapusTerus menulis, ya :)
Halo. .
HapusMaaf saya baru baca komen keceburgot (karena saya baru buka blog saya lagi)..
Terimakasih atas suntikan semangatnya, semoga saya benar-benar bisa terus menulis (lagi)..
Salam Kenal ^_^